Mengenal Syarat-Syarat Dalam Ibadah Haji
Easystem   26 September 2018   Dibaca 243 kali  

   Para pembaca yang semoga senantiasa dirahmati Allah, pada edisi yang telah lewat sudah kita mulai pembahasan tentang haji. Pada kesempatan kali ini insya Allah akan kita teruskan pembahasan seputar masalah tersebut, dan insya Allah akan kita bahas tentang masalah menyangkut syarat-syarat haji.

DEFINISI "SYARAT"

 Syarat secara bahasa artinya adalah tanda, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

 


"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?"

Sedangkan makna syarat secara istilah, sebgaimana yang dikatakan ulama Ushul Fiqih, artinya:

"Apa yang mengharuskan dengan tidak adanya (syarat) tidak adanya (suatu amalan), dan tidak diharuskan dengan adanya (syarat) ada atau tidak adanya (suatu amalan) secara zatnya."

Untuk memperjelas makna definisi di ata, kita buat contoh:

Wudhu merupakan syarat sahnya shalat. Ketika tidak ada wudhu, maka tidak boleh untuk melaksanakan shalat, dan tidak akan sah shalat yang dilakukan tanpa wudhu. Namun dengan adanya wudhu, tidak mengharuskan seseorang untuk shalat atau tidak shalat, karena mungkin seseorang berwudhu hanya untuk menjaga kesucian dirinya dari hadats.

MACAM-MACAM SYARAT HAJI

Secara umum syarat haji ada 6, yaitu: Islam, berakal, merdeka, baligh, memiliki kemampuan, dan adanya mahram bagi wanita.

Kemudian dari 6 syarat ini dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

1. Syarat sahnya haji.

   Dari 6 syarat di atas, yang menjadi syarat sahnya haji ada dua, yaitu Islam dan berakal. Sehingga untuk bisa dikatakan bahwa haji seseorang dihukumi sah apabila dilakukan oleh orang Islam dan dalam keadaan sehat akalnya. Dan apabila haji dilakukan oleh orang kafir atau orang gila maka tidak sah haji tersebut.

2. Syarat yang mencukupi atau menggugurkan kewajiban.

    Haji seseorang dianggap mencukupi dan bisa menggugurkan kewajiban apabil terpenuhi 2 syarat, yaitu baligh dan merdeka. Dari sini bisa dipahami, bahwa hajjinya anak kecil yang belum baligh itu telah dianggap sah. Demikian juga hajinya budak, juga dianggap sah.

"Dari Ibnu Abbas R.A, berkata: "Ada seorang wanita menunjukkan anaknya yang masih kecil kepada Rasulullah SAW dia berkata, 'Wahai Rasulullah apakah anak ini hajinya diterima?' Beliau menjawab, 'Ya, dan kamu juga mendapat pahala." (HR. Muslim)

  Namun haji keduanya (anak yang belum baligh dan budak) belum dianggap mencukupi serta belum dianggap menggugurkan kewajiban dari hajjatul Islam (haji yang waji ketika beragama Islam). Sehingga apabila anak tersebut nantinya menginjak usia baligh maka masih diwajibkan baginya untuk berhaji. Demikian pula jika budak tersebut nantinya dimerdekakan atau menjadi orang merdeka, masih diwajibkan baginya untuk berhaji. Hal itu karena haji yang dilakukan ketika masih  kecil atau ketika menjadi budak belum bisa menggugurkan kewajiban.

"Dari Ibnu Abbas R.A, berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Anak kecil manapun dia berhaji, lalu dia mencapai usia baligh, maka hendaknya dia berhaji dengan haji yang lain. Orang Arab badui manapun dia berhaji, lalu dia hijrah, maka hendaknya dia berhaji dengan haji yang lain. Budak manapun dia berhaji, lalu dia dimerdekakan, maka hendaknya dia berhaji dengan haji yang lain." (HR. al-Baihaqi, dinilai shahih oleh al-Al-bani dalam Shahih al-Jami' no. 2729)

3. Syarat wajib untuk berhaji.

  Demikian jua seorang muslim dikatakan wajib untuk berhaji apabila terpenuhi dua syarat, yaitu:

Pertama, Memiliki kemampuan untuk berhaji. 

  Dan kemampuan di sini meliputi; sehat jasmani dan tidak mengidap penyakit yang bisa menghalangi untuk melakukan amalan-amalan haji.

"Dari Abdullah bin Abbas R.A, berkata, "Ketika Fadhl bin Abbas dibonceng Rasulullah SAW, datanglah seorang wanita dari Khats'am meminta fatwa kepada Rasul SAW, dia berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibadah haji yang diwajibkan Allah atas hambanya mendapati bapak saya dalam keadaan dia sudah lanjut usia, tidak mampu untuk duduk kokoh di atas kendaraan. Bolehkah saya menghajikan untuknya?" Beliau menjawab, "Ya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  Demikian juga seseorang dianggap mampu apabila memiliki biaya untuk melakukan perjalanan ke tanah suci dan perbekalan yang dibutuhkan, selain dari apa yang dia miliki untuk kebutuhan pokoknya. Demikian pula dengan adanya nafkah yang ditinggalkan untuk keperluan keluarga yang ditinggalkan. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):

"Cukuplah seseorang dianggap berdosa, dia menelantarkan orang yang dia wajib memberi makan kepadanya." (HR. Abu Dawud)

   Dan masuk dalam kategori mampu apabila seseorang merasa terjamin dengan keamanan jiwa dan hartanya ketika melakukan perjalanan ibadah haji, serta merasa aman dengan keluarga yang ditinggalkan di rumah.

Kedua, Adanya mahram bagi wanita 

Kemudian disyaratkan secara khusus untuk wanita selain syariat di atas, bahwa diwajibkan bagi wanita untuk berhaji apabila ada mahram. Yaitu didampingi oleh suaminya atau mahram yang lainnya dari jalur nasab maupun persusuan. Dan apabila tidak ada mahram yang bisa mendampinginya, maka tidak wajib bagi wanita untuk pergi berhaji.

"Dari Ibnu Abbas RA, sesungguhnya dia mendegar Nabi SAW bersabda, "Benar-benar jangan ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahram), dan benar-benar jangan ada seorang wanita bepergian jauh (safar) kecuali bersama dengannya seorang mahram." Lalu berdirilah seorang laki-laki dan berkata, "Wahai Rasulullah, seseungguhnya saya terdaftar dalam peperangan demikian dan demikian, sementara istri saya bepergian untuk berhaji." Lalu Rasulullah bersabda, "Pergilah dan behajilah bersama istri kamu." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

  Pertanyaan: Bagaimana seandainya ada seorang wanita berhaji tanpa didampingi mahram, sahkah hajinya?

  Jawab: Apabila ada wanita berhaji tanpa didampingi mahram, maka hajinya tetap sah, namun dia berdosa karena melanggar sesuatu yang dilarang oleh Allah, yaitu bepergian tanpa mahram.

HARUSKAH ISTRI MEMINTA IZIN KEPADA SUAMI UNTUK BERHAJI?

 Ketika persyaratan waji haji di atas sudah terpenuhi pada seorang wanita, maka sebaiknya dia meminta izin kepada suaminya untuk berhaji. Jika suaminya mengizinkan- alhamdulillah-, jika tidak maka wanita tersebut berangkat haji walaupun tanpa izin suaminya, karena tidak ada hak bagi suami untuk melarang istrinya untuk berhaji. Ini apabila haji yang dilakukan adalah haji yang wajib. Hak suami tidaklah menggugurkan sesuatu yang hukumnya fardhu 'ain pada seorang wanita, seperti contoh yang lain; puasa ramdhan, tidak ada hak bagi suami untuk melarang istrinya berpuasa Ramadhan.

  Namun seandainya haji tersebut adalah haji yang sunnah, atau menghajikan orang lain, maka wajib bagi istri untuk minta izin kepada suaminya, dan boleh bagi suami untuk melarangnya. Wallahu a'lam.

 

Sumber: Majalah al-Mawaddah vol. 104 oleh Ust. Abdul Khaliq, Lc.

 
Tags :
6

Bagikan :