Maukah Engkau Menikahi Putriku?
Easystem   08 September 2018   Dibaca 144 kali  

 Dari Ibnu Umar R.A, ia menceritakan tentang sahabat Umar bi Khaththab R.A, "Bahwasannya tatkala Hafshah binti Umar ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahmi (ia adalah salah seorang sahabat Nabi yang meninggal di Madinah), Umar bin Khaththab berkata, 'Aku mendatangi Utsman bin Affan untuk menawarkan Hafshah, maka ia berkata, 'Akan aku pertimbangkan dahulu.' Setelah beberapa hari kemudian Utsman mendatangiku dan berkata, 'Aku telah memutuskan untuk tidak menikah saat ini.' Umar melanjutkan, 'Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata, 'Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti Umar denganmu.' Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada Utsman.

 Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah Saw meminangnya. Maka aku nikahkan putriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu Bakar menemuiku dan berkata, 'Apakah engkau marah kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan tetapi aku tidak berkomentar apa pun?' Umar menjawab, 'Ya.' Abu Bakar berkata, 'Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah Saw. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan menerima tawaranmu."

 (Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5122 dan an-Nasa'i 4/77-78, sebagaimana dalam Shahih Sunan an-Nasa'i no.3047)

PENJELASAN HADITS

 Imam al-Bukhari memberikan judul bab utuk kisah ini dengan ucapan beliau, "Bab: (Bolehnya) seseorang menawarkan putri atau saudara perempuannya (untuk dinikahi) kepada orang-orang yang baik."

 Dan boleh bagi seorang wanita untuk menawarkan dirinya kepada lelaki yang shalih  dan memiliki kemuliaan agar lelaki tersebut mendatangi orang tuanya (wanita tersebut) untuk melamarnya. Imam al-Bukhari R.A berkata, "Bab: Seorang wanita shalh," lalu beliau membawakan hadits Anas bin Malik R.A, bahwa beliau berkata (yang artinya):

"Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan menawarkan dirinya kepada beliau (untuk dinikahi)." (HR. al-Bukhari: 2/246)

Ssi pendalilan dari kisah ini adalah adanya taqrir (persetujuan) Nabi SAW terhadap perbuatan wanita ini.

 Sudah menjadi kewajiban seorang muslim menegakkan sunnah Rasulullah. Namun sangat disayangkan, salah satu sunnah beliau yang terlupakan, bahkan menjadi hal aneh yang ditinggalkan oleh sebagian besar umat islam di akhir waktu ini. Jika kita menengok kebelakang bagaimana Allah Azza Wajalla menceritakan sebuah kisah seorang laki-laki shalih yang manawarkan putrinya kepada Nabi Musa A.S dalam sebuah ayat-Nya 

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

 


Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".(QS. al-Qashash: 27)

 Al-Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya (13/271) mengatakan, "Adapun dengan firman Allah Azza Wajalla, 'Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu.' maka di dalamnya terdapat sebuah sunnah yang telah tegak, yaitu bolehnya seseorang menawarkan putri maupun saudarinya untuk dinikahi oleh seorang lelaki shalih, sebagaimana seorang lelaki shalih dari negeri Madyan menawarkan putrinya untuk lelaki shalih dari bani Isra'il. Begitu juga dengan penawaran putri sahabat Umar bin Khaththab, Hafshah, kepada sahabat Abu Bakar dan Utsman. Dan bagaimana seorang wanita berbakat menawarkan dirinya kepada Rasulullah Saw. Maka menjadi sebuah kebaikan jika seorang wali dari wanita menawarkan putri maupun saudaranya kepada seorang laki-laki, dan seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki shalih untuk dinikahi, sebagai bentuk mengikuti Salafus shalih. Sebagaimana Ibnu Umar R.A mengatakan, maka Umar mengatakan kepada Utsman, 'Jika engkau menghendaki, aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar...'"

Faedah Hadits

 Dari Hadits tersebut kita bisa mengambil faedah yang menjadi pedmoan hidup kita sebagai hamba Allah, agar kita bisa maksimal di dalam menunaikan sunnah Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari, terutama di dalam sebuah kehidupan berkeluarga. Di antara faedah yang bisa kita ambil sebagai berikut :

1. Anjuran memilih laki-laki shalih.

 Apabila seorang laki-laki yang shalih di anjurkan untuk mencari wanita muslimah ideal, maka demikian pula dengan wali kaum wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya. Karena pertimbangan agama merupakan hal yang diutamakan dalam memilih seorang istri maupun seorang suami, sebagaimana dalam banyak firman Allah Azza Wajalla menjelaskan hal ini.

وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ 

Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.(QS. al-Baqarah: 221)

وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. an-Nur: 26)

Dari Abu Hatim al-Muzani R.A, ia berkata, "Rasulullah Saw bersabda,(yang artinya)

"Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkan ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar." (Hadits Hasan Lighairihi: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi ni.1085, as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1022)

2. Lamaran dalam timbangan Islam.

 Jika seorang lelaki yang memiliki keinginan kuat untuk menikahi seorang wanita tertentu, hendaknya ia segera menemui wali dari wanita tersebut, dan disyariatkan pula bagi pelamar untuk melihat wanita yang akan di lamarnya, Mughirah bin Syu'bah R.A menceritakan,

"Sesungguhnya ia pernah meminang seseoran wanita, lalu Nabi Saw bersabda, "Lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu lebih menjamin untuk melanggengkan hubungan kamu berdua." (HR. at-Tirmidzi no. 1865, dan hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

 Secara umum, kegiatan pelamaran ini dilakukan oleh pihak lelaki kepada pihak wanita, namun boleh bagi wali wanita untuk menawarkan putri maupun saudarinya kepada seorang lelaki yang di anggap pantas dan baik agamanya. Hal ini sebagaimana dalam kejadian di atas yang terjadi antara tiga manusia terbaik umat ini setelah nabinya.

3. Boleh Berpoligami

 Sebagian wanita berpandagan tidak bolehnya seorang laki-laki menikahi wanita lain jika ia telah menikah (berpoligami). Mereka berpendapat, bahwa poligami merupakan bentuk kezaliman terhadap istri.

 Maka tidak diragukan lagi bahwa ungkapan tersebut amat kurang tepat. Bagaimana kita melihat pergerakan sahabat Umar R.A yang ingin menikahkan putrinya, Hafshah, kepada seorang laki-laki shalih yang telah beristri sebelumnya.

 Seseorang yang sedang melamar atau yang menikah, laki-laki maupun wanita, hakikatnya mereka telah melakukan amalam yang baik. Karenanya mereka akan mendapatkan pahala dari Allah. Insya Allah. Dan seorang laki-laki yang menikahi wanita lebih dari satu, hendaknya mengutamakan keadilan seseuai dengan yang ia mampui. Karena hal ini merupakan bentuk kerjasama yang baik, sebagaimana Allah Swt berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa (QS. al-Maidah: 2)

Dan sudah menjadi sebuah keharusan bagi kaum muslimin untuk saling membantu dalam kebaikan dan memudahkan urusan pernikahan. Maka kita yang hidup di zaman yang penuh dengan fitnah untuk segera menikah, begitu juga dengan jumlah wanita yang lebih banyak jumlahnya dari laki-laki.

Wallahu a'lam

 

Sumber: Majalah Islam al-Mawaddah vol. 107 tahun ke-10 oleh Ust. RIfaq Ashfiya' Lc.

 
Tags :
7 6 5

Bagikan :


Baca Juga

Ketika Sang Suami Tidak di Rumah
Penjagaan Nabi Muhammad SAW Terhadap Umatnya Dari Kesyirikan