Abu Hurairah
Easystem   12 September 2018   Dibaca 114 kali  

Melalui celaan kaum Syi'ah, Allah juga menghendaki agar pahala para sahabat tidak terputus walau mereka telah wafat. Karena jika si pencela memiliki kebaikan, akan diambillah kebaikannya, bila tidak maka ia akan memikul dosa orang yang ia laknat.

Maka barang siapa yang mencintai sahabat, meniti jalan mereka dan berpegang teguh dengan manhaj mereka, sejatinya dia telah berbahagia dunia dan akhirat.

NASABNYA

Beliau bernama Abdurrahman bin Shakhr, akan tetapi terkenal dengan julukannya. Beliaulah Sayyidul Huffazh (Pemimpin para penghafal hadits), imam, fiqih, mujtahid yang berasal dari kabilah Daus.

Beliau memperoleh barakah doa Rasulullah, di mana pemimpin Daus bernama Thufail bin Amr ad-Dausi pernah datang kepada Nabi seraya mengatakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya suku Daus telah bermaksiat kepada agamamu dan enggan untuk beriman, maka doakanlah kebinasaan buat mereka." Rasulullah menghadap kiblat dan mengangkat tangannya sehingga orang-orang mengatakan, "Binasalah mereka!" akan tetapi beliau berkata dalam doanya, "Ya Allah, berilah hidayah suku Daus dan datangkanlah mereka dalam keadaan Islam", Beliau mengulanginya tiga kali. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

KEUTAMAAN BELIAU

Beliaumemiliki keutamaan yang sangat banyak, di antaranya:

  1. Senatiasa mulazamah (bersama) dengan Rasulullah.

Mulazamah dengan Rasulullah dipandang sebagai keistimewaan khusus oleh sebagian sahabat, karena kedekatan mereka dengan Rasulullah dalam semua keadaan menjadikan mereka menghafal apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari beliau. Oleh karena itu maka sahabat yang paling banyak ilmu dan keutamaannya adalah Abu Bakar dan Umar. Sebab, sering kali Rasulullah tidak duduk dan berdiri, diam dan berbicara, mukim dan safar, berhenti atau berjalan, kecuali keduanya bersama beliau, tetapi mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk duduk menyampaikan hadits kepada para sahabat atau para tabi'in.

Abu Hurairah termasuk yang paling beruntung dari Mulazamah ini, di mana beliau dapat menghafal sebanyak 5.000 hadits Rasulullah  untuk kaum muslimin. Abu Hurairah berkata, "Sungguh, saudaraku dari kalangan muhajirin dan anshar sibuk dengan perniagaan dan pertanian, sehingga tak memiliki banyak kesempatan untuk bermajelis dengan Rasulullah. Adapun aku, orang miskin, merasa cukup dengan isi perutku untuk senantiasa mulazamah dengannya. Aku selalu menghadiri majelis beliau, sedang mereka tidak. Aku hafal sedang mereka lupa."

Perkataan beliau ini sebagai hikayat fakta bukan sebagai celaan terhadap sahabat yang sibuk bekerja dalam urusan dunia untuk menafkahi keluarga mereka dan fisabilillah. Namun yang tercela adalah sibuk dengan dunia dan lalai dari akhirat. Sibuk bekerja tanpa shalat adalah tercela sekalipun dia orang yang paling miskin, sedangkan orang yang kaya raya yang sibuk dengan dunia tapi menunaikan hak-hak Allah tidak tercela lantaran ia tidak tertipu oleh dunia.

Sebagian kalangan mengira bahwa yang tertipu oleh dunia hanyalah orang-orang kaya yang sibuk dengan hartanya, adapun orang-orang miskin tidak tercela karena  tidak akan sibuk dengan dunia. Anggapan semacam ini perlu diluruskan, karena nyatanya betapa banyak orang miskin terfitnah dan sibuk dengan dunia dan hawa nafsu tanpa shalat serta menyia-nyiakan agamanya? Sebaliknya, banyak orang kaya yang berkendaraan mewah tapi dia gunakan untuk berangkat ke masjid menuju jamaah.

Karena itulah orang kaya yang super sibuk dengan urusan dunianya, tetapi berhenti pada waktu-waktu shalat untuk menunaikan shalat, itu jauh lebih baik dan tidak tertipu dengan dunia ketimbang si fakir yang melarat tapi tidak menunaikan shalat. Orang ini telah tertipu oleh dunia dan hawa nafsu. Maka seseorang dikatakan sibuk dan terfitnah oleh dunia bila dia menyia-nyiakan agamanya, baik kaya atau miskin.

Abu Hurairah berkata, "Suatu hari Rasulullah bersabda, "Siapakah di antara kalian yang membentangkan kainnya seraya kusampaikan perkataanku lantas dia simpan dalam dadanya dan dia tidak akan lupa untuk selamanya?' Aku pun bentangkan kainku, dan aku tidak melupakan perkataan itu hingga sekarang." (HR. al-Bukhari: 2223)

2. Semangat untuk mengetahui kebenaran 

Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah, "Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat, Rasulullah?" beliau menjawab, "Aku sangka bahwa tidak ada yang mendahului dalam pertanyaan ini selainmu, itu karena engkau sangat semangat dalam hadits. Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah yang mengikrarkan kalimat tauhid dengan ikhlas dari hatinya." (HR. al-Bukhari:99)

3. Semangat dalam menuntut ilmu.

Abu Hurairah berkata, "Wahai Rasulullah, aku banyak mendengar hadits darimu, tetapi aku lupa", sabda Rasulullah, "Bentangkan kainmu!" Maka aku bentangkan, lalu beliau menimba dengan tangannya seraya berkata, "Sekarang tutuplah!" Aku pun menutupnya. Maka aku tidak pernah lupa sedikit pun setelah itu. (HR. al-Bukhari:119)

Tidak ada seorang muslim pun kecuali mencintainya lantaran Rasulullah mendoakannya agar dicintai oleh Allah dan kaum muslimin.

AKHLAKNYA

Beliau pingsan berkali-kali karena takut pada Allah tatkala meriwayatkan hadits tentang tiga orang yang alim, dermawan dan mujahid yang pertama kali disiksa Allah di hari kiamat karena mereka tidak ikhlas dalam beramal.

NASIHATNYA

Abu Hurairah berlindung kepada Allah dari zina, mencuri, kafir atau melakukan dosa besar. Maka beliau ditanya, "Apakah kamu takutkan dirimu darinya?" Jawabnya, "Apakah yang membuatku merasa aman, sedangkan Iblis hidup dan Allah yang membolak-balikkan hati sekehendaknya?"

Beliau pernah ditanya tentang takwa, jawabnya, "Kamu berjalan di atas duri sangat berhati-hati dan menghindari duri tersebut." Suatu saat beliau menangis, lalu ditanya, "Apa yang membuatmu menangis?" jawabnya, "Aku menangis bukan karena dunia kalian ini, tapi aku menangis karena jauhnya perjalananku sedangkan perbekalanku sedikit. Sesungguhnya aku berada di tempat yang sulit, yaitu surga atau neraka. sedang aku tidak mengetahui di mana dari keduanya aku berada?"

Itulah takutnya para ulama. Bukan takut bila Allah tidak menerima amal, namun takut jika beramal tidak ikhlas. Para ulama dan orang-orang shalih beramal shalih sebaik-baiknya, tetapi mereka sangat takut kepada Allah. Sedangkan orang yang tidak tahu, berbuat maksiat dan mengharap ampunan namun tidak takut kepada-Nya. Benarlah firman Allah:

اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ulama. (QS. Fathir[35]: 28)

 

Bagikan :