Fatimah Binti ’Utbah R.A.
Easystem   10 September 2018   Dibaca 84 kali  

Allah Azza Wajalla memang memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa ada yang bisa memaksa dan mengatur keinginan-Nya. Kalau kepada Abu Thalib yang membela dan melindungi Nabi SAW dalam menjalankan dakwah di Makkah, Dia menghendakinya untuk mati dalam kekafiran, maka terhadap Fatimah binti 'Utbah, Allah Azza Wajalla memberikan hidayah Islam baginya dan memberikan ia kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat. Sejahat apa pun perlakuannya terhadap Rasulullah dan kaum muslimin.

 Sebelumnya pandangan dan sikap Fatimah terhadap Rasulullah sama dengn mayoritas kaum Quraisy terhadap beliau; semua sepakat bahwa Muhammad SAW adalah seorang yang jujur dan terpercaya. Namun ketika beliau datang membawa risalah dan mendakwakan diri menjadi utusan Allah, maka rasa benci dan anti-Islam mulai tumbuh dalam diri mereka. Begitu juga dengan Fatimah. Terlebih ketika keadaan di sekelilingnya mendukung untuk menyuburkan kebencian itu.

 Ayahnya 'Utbah bin Rabi'ah adalah pemuka Quraisy yang sangat kaya dan berpengaruh kala itu. Berapa kali ia ditunjuk oleh kaumnya untuk bernegosiasi dengan Rasulullah untuk menghentikan misi dakwahnya. Sebenarnya ada sedikit ketertarikan terhadap Islam dalam diri 'Utbah. Jawaban Rasulullah ketika berdialog dengannya begitu menghujam dalam sanubarinya. Ia benar-benar merasa takut akan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah ketika mereka enggan untuk beriman. 'Utbah menyadari bahwa peringatan adzab dari Rasulullah bukan main-main. Tidak pernah sekalipun Rasul berdusta. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya ialah kalam Allah yang tak diragukan lagi kebenarannya. Namun semua yang ia rasakan itu sirna ketika Abu Jahal mulai mengejek dan mengatakan ia sebaai seorang penakut. Di saat itu keangkuhannya mulai bangkit lagi.

 Walau begitu, ketakutan 'Utbah terbawa hingga menjelang dimulainya Perang Badar. 'Utbah bin Rabi'ah membujuk kaumnya untuk meninggalkan peperangan dengan mengingatkan mereka akibat dan bahaya yang akan mereka hadapi. Ia berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya kaum muslimin itu akan berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan!" Akan tetapi, Abu Jahal menanggapinya dengan sinis.

 'Ubah melanjutkan alasannya, "Sesama saudara akan membunuh satu sama lain?! Sungguh, hal itu akan meninggalkan kepahitan yang tak pernah hilang selamanya!"

 Abu Jahal langsung menuduhnya sebagai penakut. Tidak terima dengan tuduhan tersebut, ia langsung menantang saudara laki-laki dan putranya untuk melawan dirinya; satu lawan dua. Putranya yang ia lawan adalah Abu Hudzaifah bin 'Utbah: ia telah masuk islam sebelum Rasulullah memasuki rumah Arqam bin Abil Arqam. Islamnya Abu Hudzaifah mendatangkan kemurkaan ayahnya, sehingga pada perang itu ia melampiaskan kemarahannya terhadap putranya.

 Nasihat 'Utbah kepada kaumnya sebelum perang tidaklah salah. Rasulullah SAW bersabda, "Jika ingin selamat, seharusnya mereka mengikuti perkataan si penunggang unta merah itu. Jika mereka mendengar perkataannya, niscaya mereka akan selamat." Ketika itu 'Utbah menunggangi unta merah. Akhirnya, Utbah tewas di peperangan Badar. Mayatnya di lempar ke dalam sumur tua bersama mayat-mayat orang musyrik lainnya.

 Abu Hudzaifah memandangi sumur itu dan ia hanya diam dan raut muka muram. Meyaksikan hal itu, Rasululla bertanya kepada Abu Hudzaifah, "Wahai Abu Hudzaifah, nampaknya engkau sedih atas keadaan yang menimpa ayahmu?" Abu Hudzaifah menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah. Aku tidak bimbang tentang ayahku dan kematiannya, hanya saja aku pernah menyampaikan kepadanya tentang pandangan yang benar dan keutamaan, sehingga aku berharap Allah memberinya hidayah kepada Islam."

 Begitulah sikap Abu Huzaifah terhadap kematian ayahnya, Lain pula dengan Fatimah, dan saudara perempuan Hindun binti 'Utbah. Kematian ayah mereka semakin membakar kemarahan dan kebencian terhadap Islam. Sehingga mereka merencanakan peperangan besar setelah kekalahan itu. Maka terjadilah apa yang terjadi pada perang Uhud, yaitu pembunuhan Hamzah bin Abdul Muthalib, pahlawan Islam, Singa Allah dan paman Nabi di perang Uhud melalui tangan Wahsyi, seorang budak Habasyah. Hal itu dilakukannya untuk menuntut balas karena ayah dan saudara-saudaranya yang tewa di Badar, tak lepas dari peran Hamzah. Dan mereka bersuka cita dengan kemenangan mereka pada perang tersebut. Di sisi lain, mereka telah menanamkan rasa duka yang mendalam pada Rasulullah dan kaum muslimin.

 Allah yang membolak-balik hati. Ketika api kebencian berkobat dan membara tiba-tiba Dia padamkan dengan cahaya Islam. Begitulah yang terjadi dengan Fatimah dan Hindun. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada Fathu Makkah (Pembebasan Makkah). Fatimah binti 'Utbah bersama saudara perempuannya, Hindun, menemui Rasulullah SAW dan bersama mereka rombongan wanita yang lain, Mereka adalah para wanita yang telah bersyahadat dan ingin berbaiat kepada Rasulullah. Semenjak itu dimulailah lembaran baru dalam kehidupan Fatimah binti 'Utbah. Ada rasa sungkan dalam dirinya ketika bertemu dengan Rasul. Ia malu akan perbuatannya sebelum Islam terhadap beliau.

 Suatu hari, setelah memeluk Islam, Fatimah datang bertemu Rasulullah dan berkata "Wahai Rasulullah, dahulu (sebelum memeluk Islam) tidak ada kubah yang ingin aku hancurkan di muka bumi ini selain kubahmu. Namun seakrang (setelah memeluk Islam) tak ada kubah yang paling kucintai di muka bumi ini selain kubahmu." Mendengar kata-kata Fatimah, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak sempurna Iman kalian sehingga aku lebih dicintainya daipada dia mencintai dirinya sendiri."

 Setelah memeluk Islam, sikap Fatimah terhadap Islam berubah secara drastis. Padahal sebelum memelluk Islam dia termasuk orang yang selalu memusuhi bani Hasyim. Suatu hari dia berkata, "Wahai bani Hasyim, hatiku tidak akan mencintaimu selama-lamanya, begitu juga ayah, paman dan saudaraku juga membencimu!"

 Fatimah menikahi Aqil bin Abu Thalib dan dia termasuk dalam golongan wanita kaya. Semoga Allah meridhai Fatimah binti 'Utbah. Perjalanan hidupnya telah memberikan inspirasi terhadap kita semua, terutama para wanita. Dia mengajari kita bahwa kesalahan bukan hanya untuk ditangisi, akan tetapi untuk diperbaiki. Dan apa yang terjadi sebelum datangnya hidayah akan terhapus, karena Islam akan menghapus dosa sebelumnya. Wallahu Ta'ala A'lam

 

Sumber: Majalah al-mawaddah vol. 107 tahun ke-10 oleh Ustadzah Gustini Ramadhani 

 
Tags :
1 6

Bagikan :