Sikap Ahlussunnah Terhadap Penguasa
Easystem   30 Juli 2018 | update 31 Juli 2018   Dibaca 107 kali  

Ahlussunnah adalah kelompok yang adil dalam bersikap terhadap penguasa. Hal ini berbeda dengan kelompok yang ekstrem dari kalangan Khawarij dan Mu'tazillah di mana mereka adalah kaum yang merendahkan dan menghinakan para penguasa bahkan mengkafir-kafirkan mereka. Atau kelompok shufiyah (sufi) dan syi'ah Rafidhah yang berkeyakinan ma'shum-nya (terpeliharanya dari dosa dan kesalahan), serta sucinya para imam mereka. sampai-sampai al-khumaini (a.k.a Khomeini) tokoh revolusi Syi'ah iran mengatakan:

   "sesungguhnya imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai (derajat) para malaikat yang dekat atau nabi yang diutus'

Di antara sikap Ahlussunnah-wal-jama'ah terhadap para penguasa adalah:

1. Berba'iat (berjanji setia untuk taat) dalam perkara kebaikan

Mendengar (patuh) dan taat kepada penguasa kaum muslimin di luar kemaksiatan telah disepakati kewajibannya oleh ahlussunnah-wal-jama'ah akan di dapati pernyataan tentang kewajiban patuh dan taat kepada penguasa walaupun mereka penguasa yang lazim, fisik, lagi durhaka.

perlu di catat di sini bahwa imam atau penguasa yang diperintahkan oleh syari'at islam untuk menaatinya adalah imam yang tidak ada atau yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali maka ia bukan termasuk imam yang diperintahkan Nabi untuk ditaati.

     "Sesungguhnya Nabi hanyalah memerintahkan untuk menaati para imam yang eksis lagi diketahui yaitu orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk mengatur umat, bukan menaati imam yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali"

2. Materi Nasehat

Ketundukan dan kepatuhan kepada penguasa yang lazim bukan berarti kita diam dan setuju dengan kezalimannya tanpa nasihat dengan cara yang benar dan penuh hikmah. dan nasihat di sini bukan pula mencela apalagi membongkar aibnya para penguasa di mimbar-mimbar atau majelis-majelis kaum muslimin.

3. Menghormati dan memualikannya

Menghormati serta memuliakan penguasa adalah keawajiban setiap rakyat. Hikmah dari itu semua agar tercipta kemaslahatan tatkala penguasa itu memiliki wibawa dihati para rakyatnya. Sebaliknya, ketika rakyat menghinakan penguasanya, tidak menghormatinya, maka yang timbul adalah kerusakan.

4. Bekerja sama dalam kebaikan dan taqwa

hal ini bentuk pengalaman dari firman allah:

Dan tolong-menolong kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertaqwalah kamu kepada allah, sesungguhnya allah amat berat siksa-Nya.

5. Mendoakan dengan kebaikan

Di antara karakteristik (ciri khas) ahlussnnah adalah mendoakan penguasa dengan kebaikan.

    "jika engkau melihat orang yang mendo'akan keburukan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwasannya ia adalah ahlulbid'ah. akan tetapi, kalau engkau melihat ada orang yang mendo'akan kebaikan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa ia Ahlussunnah, insyaallah."

6. Bersabar atas kezaliman penguasa

Kezaliman penguasa adalah bencana yang allah timpakan kepada hamba-Nya dengan membawa hikmah yang besar. maka menghadapi musibah hanyalah dengan sabar dan kembali dengan intropeksi diri, karena penguasa yang zalim sebagai benuk balasan yang setimpal.

7. Tidak melakukan pemberontakan terhadap mereka

Siapa yang melihat kemungkaran pada pemimpin jika mampu maka hendaknya ia menasihati pemimpin tersebut secara tertutup. namun, jika tidak mampu melakukannya maka hendaklah ia bersabar dan ia tidak boleh keluar dari jama'ah kaum muslimin. dan di larang memerangi serta memberontak terhadap pemimpin kaum muslimin, selama mereka masih mendirikan shalat.

8. Melaksanakan ibadah bersama mereka

Di anatara prinsip aqidah ahlussunnah-wal-jama'ah adalah beribadah seperti sholat berjama'ah, sholat jum'at, sholat 'id, puasa berjihad, dan haji brsama pemimpin dan penguasa mereka, tanpa membedakan penguasaa itu baik atau lazim.

 

sumber : buku majalah Al Furqon edisi 11 tahun ke-16

 

Bagikan :