TEGAR DIATAS SUNNAH
Easystem   30 Juli 2018   Dibaca 154 kali  

 Sesungguhnya seorang manusia di alam kehidupan ini pada umumnya berbolak balik di dalam kebaikan dan keburukan, di dalam semangat kebaikan dan futur; akan tetapi,ibrah di sisi Allah Ta'la adalah akhir kehidupan manusia. Jika akhir amalan seorang manusia adalah baik maka akibat di akhirat juga kebaikan. Sebaliknya,jika akhir amalan adalah keburukan maka akibat di akhiranya juga keburukan. Wal'iyadzubillah. Karena itulah, para salaf sangat takut kepada akhir buruk dari kehidupan mereka.

 Keberadaan seseorang sekarang di atas kebaikan dan jalan yang lurus tidak berarti dia selalu demikian dan mati di atasnya, karena hati begitu cepat berubah dan berbolak balik. Sebagaimana banyak orang yang mendapat hidayah dari kekufuran kepada Islam dan bid'ah kepada sunnah, maka demikian juga Wal'iyadzubillah terkadang seseorang sesat setelah mendapat petunjuk sehingga dia kafir setelah keimanannya atau menjadi fasiq setelah ketaatannya atau menjadi ahli bid'ah setelah masuk ke dalam Sunnah.

 Maka keteguhan di atas al-haq hingga datang ajal adalah cita-cita setiap muslim yang mengharapkan Allah Ta'ala dan hari Akhir. InsyaAllah di dalam bahasan kali ini kami bawakan kiat kiat agar seorang muslim agar selalu teguh di atas al-haq dengan banyak mengambil faedah dari risalah asy-Syaikh al-'Allamah Prof. Dr. Abu Muhammad Rabi' ibn Hadi al-Madkhali yang berjudul ats-Tsabtu 'Alas-sunnah.

 

TEGUH DI ATAS SUNNAH DENGAN TAUFIQ DARI ALLAH TA'ALA

 Teguh di atas Sunnah maknanya adalah teguh di atas Islam secara keseluruhan; dari semua pokok-pokok dan cabang-cabangnya, seluruh aqidah-aqidah dan manhaj-manhajnya. kita tegar/koko di atasnya berpegang teguh dengannya hingga bertemu Allah Tabaraka wa Ta'ala 

 Begitu banyak nash-nash dari Al-Qur'an dan as-Sunnah yang menggesa dan menganjurkan agar kaum muslimin berteguh di atas Islam secara keseluruhan. Maka teguh di atas Sunnah bukanlah yang difahami oleh kebanyakan orang dari lafazh Sunnah, karena Sunnah yang dimaksud di sini adalah aqidah dan manhaj, yaitu islam, yaitu teguh di atas Islam.

 Teguh di atas Sunnah tidaklah terjadi terkecuali dengan taufiq dari Allah Ta'ala. Petunjuk dan penyesatan di tangan Allah Ta'la; Allah Ta'la Memberi petunjuk siapa yang Dia Kehendaki dan Menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki, Allah Ta'la Meneguhkan siapa yang Dia Kehendaki, Allah Ta'ala meneguhkan siapa yang Dia Kehendaki dan Menggelincirkan siapa yang Dia Kehendaki. Karena itulah, Allah Ta'la Mengajarkan kepada kita agar memohon kepada-Nya agar tidak Menyelewengkan hati-hati kita;

ربنا لا تزغ قلو بنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لد نك رحمة إ نك أنت الو هّا ب ٨

 "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau Beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkauh Maha Pemberi." {QS. Ali-'Imran (3):8}

 و ا لله لو لا الله ما اهتد ينا و لا تصدّ قنا ولا صلّينا

 "Demi Allah, kalau bukan karena Allah, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk. Dan (kalau bukan karena Allah) tidak akan pula kami bershadaqah dan sholat" {Diriwayatkan oleh al Bukhari di dalam Shahih-nya (4169) dan Muslim (1802)}

Yaitu mereka mengakui bahwa hidayah dari Allah Ta'la, anugrah dan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia Kehendaki dari para hamba-Nya, Allah Menganugerahkan kepada siapa yang dia kehendaki, Meluruskan langkah mereka, dan menjaga mereka dari ketergelinciran, kesesatan, dan penyelewengan. Allah Menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki; adakalanya dengan penyesatan secara keseluruhan seperti kekufuran dan keluar dari Islam Wal'iyadzubillah; dan adakalanya dengan penyesatan secara parsial; kesesatan orang yang sudah masuk Islam, Dia Sesatkan di dalam aqidah-nya dan di dalam manhajnya Wal'iyadzubillah. Karena itulah,Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar selalu berdo'a:

يا مقلّب القلوب ثبّت قلوبنا على دينيك

 "Wahai Dzat yang Membolak-balikkan hati,tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu"

 Jika Allah Ta'ala Meneguhkan seorang muslim di atas agamanya yang haq, di atas manhaj-Nya yang haq, dan di atas aqidah yang shahihah, maka ini adalah nikmat dari Allah Ta'ala Maka jangan sampai dia terpedaya dengan dirinya sehingga merasa bangga dan merasa sombong. Akan tetapi, hendaknya dia betawadhu' dan bersyukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat tersebut, dan selalu memohon kepada Allah Ta'ala agar selalu Meneguhkan hatinya.

SUMBER : Majalah dakwah islam ( AL-FURQON oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah ) (sedikit perubahan)

 
Tags :
11

Bagikan :