salah kaprah tentang khodhir
Easystem   10 September 2018   Dibaca 119 kali  

      khodhir adalah sosok yang tidak dapat kita pungkiri akan keberadaannya. kisah pertemuan antara nabi musa dengannya merupakan sebuah kisah nyata yang begitu masyhur (terkenal) di tengah masyarakat kita. namun kisah tentang khodhir masih tetap menjadi misteri dan polemik bagi sebagian kita, kaum muslimin. diantaranya adalah: "apakah dia seorang nabi atau wali? jika seorang wali apakah dia lebih baik dari seorang nabi? demikian juga tentang kehiupannya apakah beliau masih hidup sampai saat ini atau telah wafat?" belum lagi tentang khuroofat dan cerita khayal yang dimasukkan ke dalam kisahnya sehingga menimbulkan berbagai macam penyimpangan dan keyakinan-keyakinan aneh, sesat, kufur, dan batil dalam beragama.Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini kita akan mencoba untuk mengungkapkan permasalahan yang ada dengan merujuk kepada  kitab-kitab para ulama sehingga tidak membuat kepala pusing-utamanya orang awam-untuk menyakininya.

Hakikat khodhir, nama dan nasabnya

      Kisah khodir memang telah masyhur di kalangan kaum muslimin karena ia ada dalam al-Qur'an(Qs.Al-Kahfi [18]:60-82) dan as-Sunnah. Nama beliau adalah Balayaa bin Milkaan bin Faaligh bin 'Aabir bin Syaalikh bin Ar-fakhsyad bin Saam bin Nuh menurut pendapat yang masyhhur dari ahli sejarah, dan berkunyah dengan nama Abul Abbas, tetapi lebih dikenal dengan sebutan al-Khodhhir atau al-Khidhr (disebut Khidhir dalam lisan orang Indonesia) yang bermakna hijau. Disebut demikian karena saat ia duduk di tanah yang tandus (rumput kering) kemudian tiba-tiba tanah tersebut berguncang dan menjadi hijau sebagaimana dalam hadits Abu Huroiroh yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam Shohih-nya.

Siapakah jati diri beliau sebenarnya?

     Para ulama berselisih pendapat dalam permasalahan ini menjadi tiga pendapat:

  1. Beliau adalah seorang malaikat yang menyerupai manusia, bukan nabi ataw wali.Akan tetapi, pendapat ini lemah dan batil.
  2. Beliau adalah seorang wali. Ini adalah pendapat sejumlah besar kaum sufi.
  3. Beliau adalah seorang nabi dari nabi-nabi Allah yang diberi wahyu.Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ahli ilmu.(lihat fathul bari:6/434).Al-Imam al-Qurthubi berkata: "Khodhir adalah seorang nabi menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama)."(Tafsir al-Qurthubi: 11/16). Dan ini adalah pendapat yang terpilih dengan dasar al-Kitab dan as-Sunnah, di an-taranya:

a. Allah berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."(QS.Al-Kahfi [18]:65)

Al- Alusi menafsirkan:"Rohmat dari sisi kami adalah wahyu dan kenabian."

b.Rasulullah bersabda:"Semoga Allah merohmati Musa, saya berharap seandainya dia bersabar sampai Khishir mengisahkan kepada kita tentang perkara keduanya."

   Harapan Rasulullah untuk mengetahui kejadian mereka berdua menunjukkan bahwa Khodir adalah seorang nabi, jika tidak demikian berarti beliau menaanti sesuatu yang bukan wahyu dari seorang manusia yang tidak maksum. Dan masih banyak lagi dalil yang lainnya. (Lihat az-Zahrun Nadhir fi Halil Khodir,al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani: 29-30, 67-69)

Siapa yang lebih afdhol (utama)?

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :"Kaum muslimin telah bersepakat bahwa Musa lebih afdhol (utama) dari pada khodhir. Maka baranng siapa yang mengatakan bahwa Khodhir lebih afdhol, berarti ia kufur, baik Khodhir dikatakan sebagai nabi ataw wali ." Pada paragraf lain beliau berkata: " Ilmu khodir tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh Musa Tidak berarti bahwa khodir lebih afdhol dari pada Musa. seperti halnya burung hud-hud ketika berkata kepada Sulaiman: "Aku mengetahui sesuatu yang engkau belum mengetahuinya."tidak berarti hud-hud lebih afdhol dari pada Sulaiman. Begitu pulas dengan sahabat yang melakukan penyerbukan pohon kurma.Ketika dalam hal penyerbukaan kurma ini mereka lebih pandai dari pada Nabi tidak mesti bahwa mereka kemudian menjadi lebih afdhol dari pada Nabi.'(lihat az-Zahrun Nadhir:26)

Khodir Masih Hidup atau Sudah Wafat?

    Para ulama berbeda pendapat tentang Nabi Khodir, apakah beliau masih hidup atau sudah wafat? Pendapat pertama menyebutkan bahwa beliau masih hidup atau sudah wafat? Pendapat pertama menyebutkan bahwa beliau masih hidup hingga saat ini.Akan tetapi, pendapat ini lemah.Karena semua hadits tentang masih hidupnya Khodhir semuanya lemah atau palsu. Berkata Syaikh asy-Syinqithi: "Banyak sekali kisah dari orang - orang sholih tentang hal ini. tetapi landasan argumen mereka sangat lemah, karena kebanyakan kisah tersebut berasal dari orang- orang yang dianggap sholih dan bersumber dari mimpi. Ada juga beberapa hadits marfu dari Anas bin Malik dan yang lainnya.tetapi semuannya tidak bisa  digunakan sebagai dalil karena lemah."(Adhwa'ul Bayan:19/267). Pendapat kedua mengatakan bahwa khodhir telah wafat. Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan para ulama sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Qurthubi:"Pendapat jumhur mengatakan bahwa Nabi Khodir telah meninggal dunia." (al-Jami'li ahkamil Qur'an: 11/41)

Di antara hujjah (dalil) yang digunakan sebagai sandaran pendapat ini adalah:

1.Allah berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhamad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?(QS.AL-Anbiyah'[21]:34]

Ayat ini bersifat umum, mencakup semua manusia sebelum Rasulullah termasuk Nabi Khodhir. (Adhwa'ul Bayan:19/269)

2. Rasulullah bersabda: "lihatlah malam ini, maka sesungguhnya tidak ada seorang pun di atas bumi ini yang tersisa hidup setelah seratus tahun (dari malam ini)." (HR. Bukhori: 116,Muslim:2537. Hadits ini menunjukkan bahwa khodhir sudah meninggal dunia. Seandainya beliau masih hidup malam itu, maka wafat beliau tidaklah lebih dari 100 tahun (dihitung dari malam tersebut).(Adhwa'ul  Bayan: 19/272). Jika demikian, maka beliau sekarang sudah wafat.

3. Ketika perang Badar Rasulullah berdo'a :"Ya Allah, jika engkau mengalahkan kelompok Islam ini, maka Engkau tidak akan diibadahi di muka bumi  ini."(HR. Muslim:5/156). Hadits ini menunjukan bahwa khodir sudah mati.Andaikata beliau masih hidup waktu itu. maka Rasulullah tidak akan berkata"Maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini, yaitu Nabi Khodhir. (Adhwa'ul Bayan:19/271)

Benarkah ia hidup di zaman nabi ?

     Ada juga yang mengatakan bahwa khodhir hidup zaman Nabi Muhammad. Namun, pendapat yang benar dan pilihan para ulama peneliti adalah bahwa ia tidak menemui agama Islam (yang dibawa Nabi Muhammad) Jika Khodir ada di zaman Nabi tentu dia wajib beriman kepada Nabi dan berjihad bersama beliau, sebagaimana hal itu telah diwajibkan oleh Allah kepadanya dan kepada para nabi yang lain untuk beriman kepada Rasulullah. Dan jika Khodhir ada di zaman Nabi pasti dia berada di Makkah dan Madinah.

     Al - Imam Ibnu Qoyyim  berkata:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang khodhir, lantas beliau menjawab: " Seandainya Khodhir masih hidup, maka dia wajib mendatangi Rasulullah, berjihad di depan beliau dari beliau. Dan Nabi telah bersabda pada perang Badar: 'Ya Allah, Jika engkau membinasakan sekelompok orang ini  (yakni kaum muslimin), niscaya Engkau tidak akan dibadahi di muka bumi.'(HR.Muslim: 5/156). Dan para sahabat yang ikut perang badar berjumlah 313 orang, mereka telah dikenal nama-namanya, bapak, dan kabilah - kabilahnya, maka di manakah  Khodhir waktu itu?" (al-Manarul Munif:68)

Mengaku bertemu khodhir

    Banyak sekali berita dan hikayat tentang orang - orang sholih bertemu dengan Khodhir. Namun semua itu tidaklah dapat diterima karena:

  1. Khodir tidaklah memiliki tanda khusus, sehigga orang yang melihat nya mengetahui bahwa dia adalah khodir
  2. Pengakuan seseorang bahwa dia adalah khodhir, tidaklah dapat memastikan bahwa dia benar - benar Khodhir, sebab mungkin saja dia berdusta untuk tujuan tertentu, atau dia adalah setan yang berusaha untuk menjerumuskaan manusia ke lembah kesesatan.
  3. Anggaplah bahwa memang mereka benar - benar bertemu khodhir, lalu apakah ini berarti ada ajaran - ajaran baru lagi yang di ajarkan olehhnya?!! Bukankah Islam telah sempurna?! Bukankah ini hanya sumber kebid'ahan dan kesesatan sehingga agama ini menjadi bahan permainan?

Sumber : ( AL - FURQOON Th ke 4 Volume 8 No 1)

 

 

 

Bagikan :