hukum-hukum seputar dosa besar
Easystem   07 Agustus 2018   Dibaca 159 kali  

1. pelaku dosa besar adalah orang yang kurang imannya, jika allah berkehendak bisa menyiksanya, jika tidak allah bissa mengampuninya.

inilah keyakinan ahlus sunnah wal jama'ah dari zaman ke zaman. bahwa pelaku dosa besar tidak dikafirkan, mereka adalah orang muslim yang sengaja berbuat kefasikan berupa dosa. para ulama ahlus sunnah telah sepakat akan perkara ini.

imam thrawi berkata, "pelaku dosa besar masih termasuk umatnya nabi muhammad mereka di dalam neraka tetapi tidak kekal jika mereka mati dalam keadaan menauhidkan allah sekalipun mereka belum taubat.

2. pelaku dosa besar dibenci sesuai dengan kadar kemaksiatan

karena, tidak ada manusia yang sempurna. pada diri sesorang akan terkumpul perkara yang baik dan perkara yang buruk. maka kita mencintainya karena dia berbuat ketaatan dan kita membencinya karena dia berbuat dosa. maka pada diri sesorang akan terkumpul perbuatan yang dapat memuliakannya atau menhinakannya. seperti seorang pencuri yang miskin, dia berhak dipotong tangannya karena mencuri dan berhak mendapat bantuan dari baitul mal untuk memenuhi kebutuhannya karena dia miskin. ini pokok keyakinan yang telah disepakati oleh ulama ahlus sunnah wal jama'ah. yang menyelisih pokok ini adalah orang-orang khawarij, mu'tazilah, dan orang yang sejalan dengan mereka."

3. kita tidak mempersaksikan pelaku dosa besar dengan surga atau neraka kecuali yang telah ditetapkan oleh agama

 syaikh ibnu utsaimin mengatakan, "menyatakan persaksian masuk surga ada dua macam:

pertama : persaksian yang berhubungan dengan sifatnya.

kedua : persaksian terhadap orang tertentu

persaksian yang berhubungan dengan sifatnya seperti kita katakan bahwa setiap orang yang beriman akan masuk surga atau setiap orang yang bertakwa masuk surga, tanpa menentukan orang-orangnya. inilah yang disebut sebagai persaksian umum yang wajib kita tetapkan karena allah memberikan kabar seperti itu, misalnya allah berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ (8) خَالِدِينَ فِيهَا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9) }
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan. Kekal mereka di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Luqman [31]:8-9)

 adapun persaksian yang berhubungan dengan orang tertentu, maka kita memberi persaksian terhadap orang-orang tertentu bahwa dia masuk surga mengikuti sebagaimana rasulullah memberi persaksian seperti itu juga. sama saja persaksian itu untuk satu orang atau beberapa orang tertentu".

4. pelaku dosa besar apabila meninggal dalam keadaan mengerjakan maksiatnya maka meninggal dalam keadaan suul khatimah

ini bukan vonis kafir, tetapi hanya sekedar perintah keras bagi orang yang gemar berbuat dosa dan belum taubat sampai ajal menjemputnya, maka mati dalam keadaan suul khatimah. orang yang meninggal saat melaksanakan ibadah haji akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah. orang yang mati saat menenggak minuman keras maka akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu juga, karena amalan seseorang tergantung pada akhirnya. nabi bersabda:

5. pelaku dosa besar tidak boleh dishalati?

menshalati jenazah tidak lepas dari empat keadaan:

pertama:  jika dia seorang muslim yang keadaan-nya tidak diketahui, sekalipun terdapat sifat nifak dalam batinnya yang tidak diketahui, maka menshalati jenazah seperti ini diisyari'atkan berdasarkan al-qur'an, sunnah, dan ijma'.

imam nakhai berkata, "para sahabat nabi tidak menahan diri untuk menshalati seseorangdari ahli kibat."

syaikhul islam ibnu taimiyah mengatakan, "adapun orang yang menampakkan kefasikannya padahal dalam dirinya ada keimanan seperti pelaku dosa besar, maka mereka harus di shalati oleh sebagian kaum muslimin ."

beliau-syaikhul islam-juga berkata dalam minhajus sunnah, "walhasil, kaum muslimin yang menampakkan keislamannya ada dua kelompok: mukmin dan fasik. barangsiapa yang kemunafikannya telah diketahui maka tidak boleh dishalati dan dimintakan ampun untuknya. adapun yang kemunafikannya tidak diketahui maka dishalati."

kedua: jika jenazah itu seorang kafir yang asli, sama saja mereka termasuk ahli kitab ataupun selain mereka dari kalangan kaum musyirikin, atau termasuk orang-orang munafik yang menampakkan sifat nifaknya, maka orang yanng keadaannya seperti ini tidak boleh dishalati berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

dalil dalam masalah ini adalah firman allah yang berbunyi:

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.(QS. at-Taubah [9]:84)

karena menshalati jenazah berarti mendo'akan kebaikan dan permohonan ampun, hal ini dilarang bagi orang-orang kafir. allah berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.(QS. at-Taubah [9]:113)

imam qurthubi mengatakan, "ayat ini mengandung perintah untuk memutus hubungan loyalitas kepada orang-orang kafir baik yang masih hidup maupun yang sudah mati karena allah tidak membolehkan bagi kaum mukminin memohonkan ampun untuk orang-orang kafir, maka meminta ampunan untuk orang yang musyrik tidak boleh."

ketiga: jika jenazah adalah pelaku bid'ah yang membawa kekafiran seperti kelompok jahmiyyah, bathiniyyah, rafidhah, dan selainnya, maka tidak boleh menshalati mereka berdasakan dalil-dalil yang umum yang melarang menshalati orang-orang kafir.

sahabat ibnu abbas tatkala menyebut orang-orang qadariyyah beliau berkata, "mereka adalah orang yang paling jelek dari umat ini, janganlah kalian menjenguk mereka jika sakit dan janganlah kalian menshalati mereka jika meninggal."

keempat: jika jenazah seorang yang menampakkan dosa besar atau pelaku bid'ah yang tidak kafir, maka orang yang semacam ini terbagi menjadi dua keadaan:

1. boleh bagi umumnya kaum muslimin untuk menshalatinya

berdasarkan keumuman bolehnya menshalati jenazah muslim seluruhnya. imam ibnu hazm mengatakan, "boleh menshalati atas setiap muslim, baik atau buruk orangnya. baik dia terbunuh karena hukuman atau karena tindakan bughat (pembangkangan)."

qadhi iyadh mengatakan, "pendapat mayoritas ulama adalah menshalati setiap muslim, baik yang mati karena sebab hukuman pidana, dirajam, bunuh diri atau anak zina."

2. hendaknya orang yang terpandang dari kalangan ahli ilmu dan imam tidak menshalatinya

syaikhul islam condong mengikuti pendapat ini dan berkata, "boleh bagi manusia umum untuk menshalatinya. adapun para pemuka agama yang menjadi panutan, bila mereka tidak menshalatinya sebagai peringatan dan pelajaran bagi yang lain sebagaimana yang dilakukan nabi maka ini adalah benar, allahu a'lam."

 

sumber : buku majalah al-furqon (edisi 11 th. ke 11 jumada akhir 1433)

 

Bagikan :