bagaimana optimis menatap masa depan
Easystem   25 September 2018   Dibaca 107 kali  

sikap optimis berhubungan dengan kepercayaan diri seseorang terhadap berbagai kebaikan. optimis akan menyertai setiap orang yang mengetahui berbagai kebaikan, manfaat dan faedah yang ia telah senantiasa lakukan. hal demikian ia lakukan karena optimisnya yang kuat mendorong menuju kebaikan demi kebaikan. di saat banyak manusia yang tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, di saat banyak mereka yang tidak tahu arah dan tujuan hendak kemana jalan hidupnya bermuara, di saat yang sama seorang yang optimis telah jauh meninggalkan mereka dengan segudang kebaikan, manfaat, faedah serta keberuntungan. itulah sedikit gambaran kehiupan orang yang optimis.

sebaliknya, orang pesimis ialah yang selalu dirundung kecemasan, kegaulauan, kedukaan bahkan keluh kesah. sebabnya, ia belum bia melihat ke depan tentang tujuan aktivitas hidup, atau muara perjalanan kehidupan yang melelahkan ini. lebih dari itu ia belum menemukan kunci dari kata maju menyongsong masa epan cemerang.

tujuan beraktivitas hidup

jika dikaji tentang tujuan aktivitas setiap rang di dalam kehidupannya, tidak ada selain menuju hidup bahagia. sedangkan bahagia itu adalah kesuksesan seseorang didalam meraih kebaikan, manfaat, faedah, dan keuntungan sebanyak-banyaknya. oleh karenanya, setiap orang yang optimis tentu akan sampai ditujuannya, yaitu hidup bahagia. karena kebahagiaan ialah terkumpulnya semua yang disebutkan di muka pada diri seseorang sehingga tiada tersisa padanya kedudukan dan pun kecemasan. itulah bahagia.

allah menerangkan keadaan hambanya yang akan bahagia dengan hilangnya kedukaan dan kecemasan serta terkumpulnya semua kebaikan dan keuntungan di dalam firmannya:

يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَالَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَوَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَلَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ

"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan." (QS. az-Zukhruf: 68-73)
ayat diatas juga memberitahukan kepada kita tentang muara perjalanan hidup. bahwa muara perjalanan hidup itu tidak sekedar sampai habis usia hidup semata, yaitu tibanya mati. kematian justru sekadar sampai habis usia hidup semata, yaitu tibanya mati. kematian justru sekedar pintu menuju kehidupan di alam lain, alam barzah, sebelum sampai di muara perjalanan hidup yang sesungguhnya, ialah hari akhir. dan di hari akhir itu tiada ada lagi kematian. oleh karena itu, tujuan aktivitas hidup di dunia ini sesungguhnya ialah untuk menggapai hidup bahagia dalam kehidupan yang abadi tersebut, yaitu bahagia di hari akhir.
jalan menuju bahagia adalah istiqamah
dari sini maka bisa diketahui bahwa jalan menuju bahagia ialah beraktivitas alias beramal dan senantiasa beramal. yaitu beramal shalih dengan menunaikan perintah dan meninggalkan larangan. dengan berusaha senantiasa di atas ketaatan pada allah dan kepada rasul-Nya seseorang akan sampai di muara hidup bahagia.
perhatikan di dalam hadits di atas, bahwa rasulullah memberi arahan kepada umat ini agar bisa meraih hidup bahagia di surga dengan senantiasa beramal dan beramal, senantiasa dalam ketaatan kepada allah dan kepada rasul-Nya. sebagaimana beliau juga memberitahukan bahwa kondisi keistiqamahan seseorang dalam ketaatan itu lebih allah cintai daripada ia lakukan amalan berat atau besar namun sekali dan ia tinggalkan setelahnya dan tidak senantiasa ia lakukan.
kondisi seorang hamba senantiasa di dalam ketaatan kepada allah dan kepada rasul-Nya itu disebut istiqamah.

ibnu rajab al-hanbali (jami'ul ulum wal hikam: 193) menjelaskan, bahwa makna "istiqamah" yaitu meniti jalan yang lurus (yaitu agama islam yang lurus dan tidak bengkok) dengan melakukan berbagai ketaatan, yang zhahir dan yang batin, dan meninggalkan semua larangan.

dengan istiqamah seseorang akan menggapai hidup bahagia di dunia sampai di akhirat yang abadi. allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَنَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَنُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Fushshilat: 30-32)

Agar senantiasa optimis

sebuah kesimpulan dari pembahasan ini, bahwa istiqamah seseorang menandakan optimisnya di dalam menatap masa depan. dan untuk senantiasa istiqamah dan tetap semangat beristiqamah memang harus juga senantiasa optimis. adapun untuk senantiasa optimis seseorang harus mengusahakan beberapa hal berikut:

1. berilmu tentang allah. berilmu tentang allah disebut juga ma'rifatullah. ialah mengenal allah dengan ilmu dalam hati yang lazimnya membuahkan sikap menerima syariat-Nya dan ketundukan serta kepatuhan kepadanya, sehingga ia akan berhukum dengan syariat-Nya yang dibawa oleh rasul-Nya muhammad.

2. berilmu tentang hikmah hidup. bahwa hikmah hidup bukan sekedar menghabiskan usia, namun mengisi usia hidup dengan beribadah. dengan mengetahui ini seseorang akan bisa tetep optimis diatas ketaatan dan ibadah kepada allah, sebab ia tahu bahwa itulah hikmah hidupnya.

3. berilmu tentang tujuan dan muara kehidupan. bahwa tujuan dan muara kehidupannya bukan hidup bahagia sampai mati menjadi tanah semata diatas bahagia. yang harus diketahui, bahwa kematian merupakan gerbang menuju kehidupan berikutya di alam barzakh dan alam akhirat. jika seseorang hanya ingin bahagia di dunia sampai mati dan ia lalai dengan hidup setelah kematian. padahal itulah yang kekal abadi, maka ia tidak bahagia. bahagia itu ialah bahagia di dunia, di barzakh dan muara nya ialah bahagia disurga yang abadi.

dengan ilmunya ini seseorang akan senangtiasa optimis saat harus istiqamah ketika hidup di dunia, meski ia harus selalu bersabar menjalaninya. sebab baginya ialah bahagia akhirat. maka ia tatep optimis demi akhiratnya.

4. berilmu tentang berbagai amal ketaatan dan amal kemaksiatan. sebab istiqamah diatas ketaatan merupakan upaya seeorang beramal dan senantiasa beramal sebagaimana telah disebutkan arahannya. di dalam ayat juga di dalam sabda nabi di atas. karenanya, ia harus berilmu tentang berbagai amalan maksiat untuk ia jauhi dan tinggalkan. sebab amalan maksiat merupakan penghalang hidup bahagia di akhirat.

jika seseorang mengetahui hal ini, insyaallah ia akan tetap optimis di atas istiqamahnya dan tiada pesimis menyapanya. sebab memang untuk menggapai hidup bahagia harus optimis di atas istiqamah. wajar jika disebutkan dalam sebuah pepatah. 'berakit-rakit hulu, berenang-renang ke tepian. bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

 

 

sumber: al mawaddah vol. 106 tahun ke 10

 

Bagikan :