Pahalamu Lebih Berharga Dari Pada Gajihmu
Easystem   26 September 2018   Dibaca 80 kali  

Judul diatas sengaja kami pilih untuk dipaparkan pada bahasan kali ini. Sebab, pada umum nya, para pengajar dan pegawai di lembaga (Swasta) yang bergerak di bidang pendidikan Islam gajihnya sedikit, walaupun ada juga lembaga yang menetapkan gajih cukup besar untuk karyawannya.

   Kami membahas yang gajihnya sedikit karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh lembaga, santri yang belajar dari kalangan  orang tua dhu'afa (ekonomi lemah) bahkan ada yang minta dibebaskan dari biaya pendidikan, sedangkan lembaga tidak memiliki sumber dana yang tetap yang memenuhi kebutuhan setiap bulannya.. Maka, dengan kondisi seperti itu, para pegawai yang lemah iman dan kesabaranya terkadang merasakan beban berat.

   Jika sebagian pegawai ada yang mapan usaha nya, sedangkan yang lain sangat miskin, terkadang timbul fitnah. Hal ini terkadang mengurangi keikhlasan ketika mengajar dan bekerja, bahkan mungkin ada yang menjadi malas mengajar atau sering absen; belum lagi yang teroendam di dalam hati sangat berat diungkapkan. Lalu, bagaimana solusinya agar kita tetap istiqamah dan bersabar menghadapi fitnah kekurangan kebutuhan hidup kita?

Makna Ayat Secara Umum

Asy-Syaikh'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di berkata:

  "Barang siapa beramal ingin mencari pahala dan imbalanya, di mengimaninya, dan membenarkan kehidupan akhirat dan bersungguh-sungguh menempuhnya. maka Allah akan menggandakan pahala amalnya, dan menggandakan dengan penggandaan yang banyak sekali, sebagaimana Allah berfirman:

 وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang - orang yang usahanya dibalas dengan baik.(QS.al-Isra'(17):19)

Lebih dari itu dia pasti mendapatkan keuntungan dunia pula. Sebaiknya, barang siapa beramalan didunia pula. Sebaliknya, barang siapa beramal, sedang niatnya hanya ingin mendapatkan dunia saja, tidak ada niat ingin mendapatkan pahala dan tidak pula takut  siksaannya, kami ( Allah) hanya memberi sebagian saja, sedangkan dia di akhiratnya diharamkan masuk surga dan haram mendapatkan kenikmtannya, dia berhak masuk neraka dan merasakan siksaanya."

Hubungan Ayat Dengan Ayat Lainnya

Kalau kita baca ayat di atas, orang yang memiliki ambisi duniawi tidaklah meraih hasil yang menjadi cita-citanya melainkan meraih sebagaiannya saja, bahkan ada yanng tidak berhasil sama sekali sebagai mana keterangan ahli tafsir. Lalu, bagaimana dengan ayat yang menjelakan siapa yang mencari keuntungan duniawi akan dipenuhi apa yang menjadi keinginannnya ? Allah berfirman

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

  Barang siapa menghendaki kehidupan sekarag (duniawi) Kami segerakan baginya di dunia itu apa (balasan dunia) yang kami kehendaki bagi orang yang kami inginkan, kemudian kami jadikan baginya Neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS.al-Isra'(17):18)

Dan juga firman Nya:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ(15)وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ(16)

Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang - orang yan di akhirat( kelak) tidak akan mempeoleh ( balasan ) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan ) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia - sialah apa yang telah mereka lakukan. (QS.Hud (11):15-16)

     Ibnu Katsir menjawab bahwa ayat ini merupakan muqayyad (membatasi) dari kemutlakan atau kebebasan dua ayat dari Surat al -Isra (17):18 dan Hud (11):15-16.(Tafsir al-Qur'anil-Anzhim(7:198)

Kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shalih yang dilakukannya, maka Allah akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya jika Allah menghendaki, dan terkadang dia tidak mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya karena Allah tidak menghendakinya.

   Oleh sebab itu, semakin jelasnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan akhirat karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikit pun, bahkan mereka aka mendapatkan adzab. Neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela. Benarlah Rasulullah yang bersabda:

"Barang siapa menjadikan dunia sebagai itu tujuan utamanya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran ada di hadapanya, padahal ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya Allah akan menghimpun urusannya dan akan menjadikan kekayaan (rasa cukup) di hatinya, dan dia akan melihat harta dunia dalam keadaan rendah." (HR>Ibnu Majah-dinilai shahih oleh as-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah(no.414)

   Jadi, keismpulannya, orang yang memiliki ambisi duniawi yang ingin kaya raya tidak mesti dia menjadi kaya. Buktinya, semua manusia ingin kaya raya dengan segala macam usahanya, namun tetap saja jumlah orang miskin lebih banyak. Sebab, kekayaan milik Allah. Jadi, mereka rugi di dunia dan akhiratnya, berbeda dengan orang yang beramal shalih untuk meraih surga akan dimudahkan dan ditolong oleh Allah sehingga menjadi tenang hidupnya di dunia dan di akhiratnya mendapatkan surga.

Menjaga Keihlasan

  Berbicara tentang niat yang ikhlas berarti membahas suatu amalan hati yang paling berat. Sebab, besarnya ambisi nafsu manusia sangat bertentangan dengan keikhlasan dalam niat, kecuali orang yang kuat imannya yang diberi kemudahan oleh Allah dalam semua kebaikan. Dari Mu'adz bin Anas Rasulullah bersabda:

"Barang siapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah sempurnalah imannya."

  Pekerja di lembaga pendidikan dinul-Islam hendaknya mempunyai niat ikhlas mencari ridha Allah Walaupun menerima gajih sedikit, hendaknya merasa senang karena dipilihkan Allah mencari rezeki di tempat yang dicintai oleh Allah.

   Al-Imam Sahl bin' Abdullah at-Tustari berkata: "Tidaklah ada sesuatu pun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu."

Semakna dengan ucapan di atas, al-Imam Sufyan bin Sa'id ats-Tsauri berkata:"Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku dari pada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas)

   Demikian para ulama sunnah senantiasa berhati-hati menjaga amalnya, selalu menjaga keikhlasannya. Sudah barang tentu, kita-yang masih lemah iman-hendaknya lebih berhati-hati dan menjaga keikhlasan amal kita tatkala mulai beramal, di tengah beramal, hingga pada akhir beramal.

    Jangan Salah Niat

    Pengajar dan pegawai di lembaga pendidikan Islam pembela as-Sunnah tentu memiliki berbagai macam niat. Hal ini perlu diperhatikan oleh para pekerja agar tidak menyesal di kemudian hari, karena Allah menilai orang yang beramal bukan hanya dilihat secara lahir, melainkan dinilai pula niatnya juga.

Asy-Syaikh'Absurrahman bin Nashir as-Sa'di berkata:

"(1) Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka orang semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin. Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat.

(2) Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna .

(3) Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang mengajarkan agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya ), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal shalih dan mengajarkan agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama."

      Semoga kita yang bekerja di lembaga dakwah dan pendidikan Islam ini dikaruniai bagian ketiga dan semoga amal kita diterima oleh Allah

Contoh Keinginan Dunia Dengan Amalshalih

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin menyebutkan beberapa contoh keinginan duniawi dengan amal shalih, yaitu:

  • Orang yang menginginkan harta, misalnya orang yang adzan (di masjid) untuk mendapatkan upah/gaji (sebagai mu'adzdzin), atau orang yang berhaji untuk mendapatkan harta.
  • Orang yang menginginkan kedudukan, misalnya orang yang belajar untuk mendapatkan ijazah sehingga kedudukannya semakin tinggi.
  • Orang yang menginginkan hilangnya gangguan, penyakit, dan keburukan dari dirinya, misalnya orang yang beribadah kepada Allah supaya Allah memberinya balasan di dunia berupa ke cintaan manusia kepadanya (sehingga mereka tidak menyakitinya), dihilangkan keburukan dari dirinya, dan lain - lain.
  • Orang yang beribadah kepada Allah dengan tujuan untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadikan mereka kagum kepada nya) dengan mencintai dan menghormatinya. Dan masih banyak contoh - contoh yang lain.

Kerugian pencarian Dunia Belaka

     Ibnu katsir menerangkan ayat di atas (QS asy-Syura (42):20):"Barang siapa beramal mencari pahala dan imbalan di akhirat maka kami (Allah) memberi kekuatan kepadanya, dan kami akan memperbanyak perkembangan. dan kami akan membalas dengan melipatgandakan pahalanya mulai dari sepuluh sampai tujuh ratus lipat bahkan lebih, sedangkan orang yanng ingin amal usahanya untuk mencari kenikmatan dunia dan tidak ada niat sedikit pun untuk akhiratnya, Allah mengharamkan dia mendapatkan kenikmatan akhirat, sedangkan urusan dunia yang ia inginkan jika Allah menghendaki maka Allah memberinya, Jika tidak maka dia tidak memperolehnya, maksudnya dia tidak mendapatkan keuntungan akhirat dan tidak pula mendapatkan keuntungan dunia; mereka rugi hidup dunia dan akhiratnya.

Penjelasan al-Imam Ibnu Katsir memang benar. Para pencinta dunia belum tentu berhasil usahanya. Tidak ada manusia yang dirinya ingin miskin , mereka semuanya ingin kaya. Mereka berusaha semaksimal mungkin dengan segala macam usahanya. Akan tetapi, masih banyak pula orang yang miskin. Berbeda dengan orang yang berusaha dengan amalnnya ingin mencari surga, Allah memudahkan dan menolong segala urusannya.

  Orang bisa jadi bekerja di lembaga pendidikan Islam berniat hanya mencari gajih atau keuntungan dunia belaka. Sekiranya dia bekerja di lembaga ini menguntungkan dunianya maka dia mau bekerja, kalau tidak maka mereka keluar atau berusaha mencari sampingan untuk mendapatkan tambahan yang lebih banyak dengan menyantai kerja pokoknya di lembaga. Kita berlindung kepada Allah dari niat yang jelek ini. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Hud (11):15-16;

   Ibnu' Abbas menjelaskan ayat ini: "Barang siapa melakukan amalan puasa, shalat, atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: 'Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari, namun amalanya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari dunia. Sementara itu, di akhirat, mereka juga termasuk orang orang yang merugi.'' Perkataan yang sama dengan Ibnu 'Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, adh Dhahhak, dan selainnya.

      Qatadah berkata: "Barang siapa dunia adalah tujuanya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amal shalihnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun, ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa - apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat."

   Demikian juga ketika kita bekerja di dalam lembaga pendidikan dan dakwah sunnah, hendaknya tidak mencari popularitas. Hendaknya tidak merasa bangga dengan keberhasilan yang kita peroleh, karena hakikatnya keberhasilan hanya dari Allah. Berbeda dengan prinsipnya orang kafir, ketika mendapatkan kesuksesan di dalam usahanya maka mereka mengatakan seperti perkataan Qarun ketika dinasihati agar menginfaqkan hartanya di jalan Allah, dia berkata sebagaimana yang Allah firmankan:

(Qarun berkatasmile "Sesungguhnya aku hanya di beri harta itu karena ilmu yang ada padaku ."{QS al-Qashash (28):27}

Dari Ubai bin Ka'b Rasulullah bersabda:

" Umat ini diberi kabar gembira dengan kedudukan,agama, dan kekuatan di muka bumi. Barang siapa dari umat ini melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun."

Pengaruh Bekerja Untuk kepentingan Umat

 Terkadang timbul dalam benak hati kita, ketika ada kesuksesan membantu lembaga pengembagan dakwah Islam dalam bidang usaha atau lainnya, lalu ada kecemburuan ingin membuka usaha pribadi sehingga mengalahkan usaha utamanya untuk lembaga. Hal ini bukan dilarang, asalkan kita berusaha dalam hal yang tidak melanggar hukum Islam dan tidak merugikan lembaga yang kita bekerja di dalamnya. Namun, perlu kita berpikir menurut Islam apa maksud kita berusaha kalau hanya mencari keuntungan dunia dengan mengumpulkan harta yang banyak. Sebab, ujian orang yang memiliki harta terkadang melupakan ibadahnya kepada Allah terkadang timbulnya tamaknya, terkadang merasa teraingi oleh kawannya, terkadang merasa lelah dan kecapekan memikirkan usahanya sehingga mengurangi ke sungguhannya bekerja di tempat kerjanya, pada hal keberhasilan yang diperoleh untuk akhirat kita, apa lagi usaha yang kita rintis dilanjutkan oleh generasi berikutnya; bukankah ini keuntungan yang besar bagi kita untuk meraih pahala sekalipun kita sudah meninggal dunia? Berapa banyak kehancuran perusahaan negara atau lembaga karena pekerjanya besantai-santai, banyak mementingkan kepentingan dirinya dari pada umat. Allah menjelaskan kepada kita manfaat dan mudarat amal untuk umat;firman-Nya:

Sesungguhnya kami menghidupkan orang - orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas - bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (lauh Mahfuzh). {QS Yasin (36):12)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa di berkata:"Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mencatat  apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan atau kejelekan dari amal yang kamu kerjakan, dan Allah mencatat pula peninggalan berupa kebaikan dan kejelekan sebab usahamu yang baik dan yang jelek ketika kamu masih hidup dan sesudah meninggal dunia pula."

Demikian juga Rasulullah menjelaskan manfaat dan mudarat amalan yang diwarisi oleh umat; beliau bersabda:

"Barang siapa menyeru kepada pertunjuk (kebajikan) mendapatkan pahala sebagaimana pahala - pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala -pahal mereka sedikit pun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan mendapatkan dosa seperti dosa - dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa - dosa mereka sedikit pun."(HR Muslim (no.6980)

    Dalil di atas menunjukkan keutamaan orang yang membantu lembaga pengembangan dinul-Islam dan sosial masyarakat, dan kerugian yang cukup besar di akhirat kelak bagi orang yang merugikan kepentingan umat. Semoga kita senantiasa di dalam petunjuk-Nya.

Sumber : ( AL - FURQON Edisi 9 Th 16:179 )

 

 

 

Bagikan :