Persalinan Caesar, Selalukah Pilihan Terbaik?
Easystem   17 September 2018   Dibaca 102 kali  

Sebenarnya operasi Caesar merupakan pembedahan besar yang dilakukan dari mulai dinding perut hingga rahim. Anehnya, jenis persalinan ini lebih disukai kebanyakan masyarakat awam yang berkantong tebal.

Sebenarnya persalinan cesar boleh dilakukan bila telah benar-benar telah membahayakan bayi, ibu ataupun keduanya jika persalinan normal di lakukan. Measki awalnya persalinan normal lebih bagus dan aman bagi ibu dan bayi.

Kebanyakan masyarakat memandang bahwa operasi Caesar adalah cara yang aman dan efisien untuk melahirkan. Bedah Caesar lebih nyaman dan lebih dapat diperkirakan daripada melahirkan pervagina. Prosedurnya pun biasanya tidak sakit, karena menggunakan bius. Fakta inilah yang mendorong para ibu dan keluarga untuk memilih melahirkan secara Caesar. Tapi, dari kacamata yang lebih cermat tampak kekurangan dan resiko utama yang membuat Caesar sepantasnya dibatasi hanya untuk keadaan persalinan normal benar-benar tidak memungkinkan.

Risiko dan efek negatif dari bedah Caesar

  • Munculnya masalah baru akibat pembiusan yang digunakan dan obat-obatan penghilang nyeri pasca operasi.
  • Meningkatnya risiko infeksi dan penggunaan antibiotik.
  • Terjadi pendarahan yang lebih berat dan meningkatnya risiko pendarahan yang menyebabkan anemia dan perlunya tranfusi darah.
  • Perawatan di RS dan di rumah lebih lama sehingga meningkatkan kebutuhan biaya hidup.
  • Nyeri luka Caesar lebih lama daripada persalinan normal. Sehingga akan memberatkan Anda untuk merawat diri sendiri dan bayi.
  • Timbulnya masalah jaringan parut pada luka bekas operasi.
  • Kemungkinan terjadi masalah lain dalam tubuh, seperti: lemahnya fungsi usus besar, kandung kemih, otot v rahim, dan risiko pembentukan bekuan darah kaki dan panggul.
  • Meningkatnya risiko masalah pernapasan dan temperatur untuk bayi yang baru lahir.
  • Potensi kemandulan yang lebih tinggi daripada wanita dengan melahirkan pervagina.
  • Peningkatan risiko placenta yang tertahan pada kehamilan berikutnya.
  • Meningkatnya risiko persalinan Caesar pada kelahiran berikutnya.

Saat membuat keputusan untuk melahirkan secara Caesar, keluarga dan dokter harus menimbang semua risiko dan manfaat yang ditimbulkan pasca pembedahan. Risiko bedah Caesar dianggap pantas dilakukan jika melahirkan secara vagina diperkirakan lebih berbahaya untuk ibu maupun bayi.

Inilah alasan bila harus Caesar

Berbagai alasan untuk mengambil keputusan dilakukannya bedah Caesar antara lain:

  • Kegagalan berkembang atau persalinan lama. Kontraksi lemah, pembukaan yang tidak ada kemajuan atau bayi yang tidak mau turun meski telah dilakukan usaha membuat kontraksi lebih bagus. Keadaan ini ditunggu sampai beberapa waktu, sesuai prosedur dari RS dan dokter ahli.
  • Mal presentasi atau mal posisi. Yaitu letak janin dalam rahim tidak normal atau tidak sesuai jika lahir normal. Semisal posisi berbaring horizontal, sungsang dan posisi kepala bayi mendongak sedemikian rupa sehingga sulit atau tidak dapat melewati panggul.
  • Cephalopelvic Disproportion (CPD). Kepala bayi terlalu besar, struktur panggul ibu lebih kecil atau kombinasi dari keduanya. CPD jarang terdeteksi sebelum persalinan. Sebab, meski bayi besar dan panggul ibu kecil, umumnya kepala bayi menyesuaikan dan sendi panggul akan melebar selama persalinan. Jika waktu cukup banyak dan kualitas kontraksinya bagus, tetapi tidak ada perkembangan, maka diagnosis CPD akan ditetapkan.
  • Distress janin. Yaitu terjadinya perubahan kecepatan pada denyut jantung janin secara tiba-tiba. Ini terjadi akibat terlilit tali pusat, akibatnya berkurangnya aliran darah yang terogsigenasi ke placenta.
  • Masalah janin. Misalnya cacat bawaan, spina bifida. Di sini Caesar berguna mengurangi risiko masalah baru pada bayi yang baru lahir.
  • Prolaps tali pusat. tali pusat turun mendahului janin di atas kepala janin ddan menjepit tali pusat.
  • Placenta previa. Placenta menutupi jalan lahir. Saat leher rahim melebar, placenta telepas dari rahim dan menyebabkan pendarahan yang tidak sakit pada calon ibu. Ini dapat mengurangi pasokan oksigen ke janin. Melahirkan lewat vagina yang aman tidak mungkin dilakukan pada placenta previa, karena placenta akan lahir sebelum janin.
  • Abrupsio placenta. Placenta yang terlepas dari dinding rahim sebelum persalinan. Keadaan ini dapat menimbulkan pendarahan rahim dan vagina tersembunyi dengan penyakit perut yang konstan. Pelepasan placenta dapat menurunkan pasokan oksigen ke janin dan bergantung pada banyaknya bagian placenta yang terlepas sehingga membutuhkan tindakan operasi Caesar.
  • Penyakit pada calon ibu. Misalnya penyakit jantung, HIV/AIDS atau penyakit dan kondisi medis bahaya lainnya yang serius. Misal, calon ibu tidak mampu menahan stres persalinan dan melahirkan lewat vagina.
  • Bedah Caesar ulang. Apabila pada persalinan sebelumnya dengan Caesar, kemungkinan besar saat melahirkan berikutnya juga akan berisiko melahirkan secara Caesar. Dewasa ini para ahli mendorong untuk melahirkan secara normal demi mengurangi tingkat operasi Caesar yang menjadi pilihan banyak pasangan tanpa adanya indikasi medis.

Pada bedah Caesar yang direncanakan akan melalui berbagai prosedur tetap, seperti pemeriksaan urin dan darah secara rutin. Jenis pembiusan dan obat-obatan akan dicek ulang, apakah pasien alergi dan yang lainnya. Kondisi kejiwaan ibu sebelum masuk kamar operasi juga menjadi  bagian dari berhasilnya operasi. Keakutan ibu akan berpengaruh pada tekanan darah jantung dan masalah lain yang dapat menghambat operasi.

Jika operasi Caesar tidak direncanakan dan bersifat darurat, dilakukan setelah muncul masalah atau kesulitan selama proses persalinan. Masalah yang muncul biasanya muncul dari persalinan macet, distress janin ataupun masalah lain yang mengharuskan segera dilakukan operasi Caesar. Masalah ini tidak tiba-tiba muncul, tetapi perlahan dan masih ada alternatif lain guna mempercepat kemajuan persalinan atau mendapatkan lebih banyak oksigen bagi bayi. Hanya jika terjadi kegagalan dari alternatif ini, operasi Caesar baru dijalankan. Respon segera tidak begitu penting pada keadaan ini. Namun terkadang ada kasus darurat yang bergantung pada tindakan Caesar yang cepat, seperti prolaps tali pusat atau pendarahan serius dan keselamatan jiwa calon ibu maupun bayi.

Masa pemulihan operasi Caesar

Pemulihan bekas luka Caesar tidak jauh beda dengan pemulihan pada persalinan normal, hanya saja akan sedikit tidak menyenangkan karena keterbatasan gerak yang Anda alami dari proses operasi tersebut.

Beberapa hal yang harus diketahui setelah tindakan operasi antara lain:

  1. Efek lanjutan dari pembiusan. Akan terjadi perubahan suhu sehingga mungkin anda akan merasa gemetar dan lebih peka. Jika dilakukan pembiusan total akan terjadi ingatan kabur atau bahkan tidak ingat apa-apa. Karena respon seseorang berbeda pada setiap tindakan pembiusan, diperlukan waktu lebih lama untuk sadar dari pembiusan epidural atau lewat tulang belakang dan harus menunggu terjadinya kentut hingga beberapa kali sebelum Anda diperbolehkan minum. Waktu yang dibutuhkan sekitar 8-12 jam pasca  pembedahan, bahkan bisa sampai 1x24 jam.
  2. Rasa sakit pada daerah sayatan. Begitu reaksi bius hilang, luka akan terasa nyeri dan seperti terbakar hingga berminggu-minggu. Biasanya pasien akan bergantung dengan obat penghilang nyeri yang ada dipasaran, namaun hendaknya meminta rekomendasi dokter untuk mengonsumsinya. Berbeda dengan obat pengurang nyeri dari dokter, ia aman dikonsumsi ibu yang menyusui. Agar pemulihan lebih cepat, hindari mengangkat beban berat dan cukup nutrisi.
  3. Rasa mual atau muntah. Ini tidak selalu muncul, tetapi jika dialami, segera minta resep dokter untuk mengurangi risiko mual dan muntah tersebut. Minuman hangat dan manis bissa dikonsumsi.
  4. Latihan bernafas dan batuk. Ini bisa dilakukan untuk membantu menghilangkan sisa bius dari dalam tubuh, membantu mengembangkan dan membersihkan paru-paru serta mencegah radang paru.
  5. Kelelahan, capek serta mengantuk biasanya terjadi setelah proses operasi lantaran banyak darah hilang dan efek pembiusan.
  6. Pelepasan selang infus dan kembali pada pola makan normal sebelum terjadi operasi. Ini dilakukan setelah 2-3 hari pasca operasi. Anda tidak dapat bergerakl eluasa dan tidak dapat turun dari kasur seperti jika Anda melahirkan normal.
  7. Kemungkinan sembelit. Ini terjadi karena melemahnya otot dan usus akibat pembiusan, diperlukan berhari-hari untuk dapat BAB normal.
  8. Rasa tidak nyaman di perut. adanya gas dalam rongga perut dan luka bekas sayatan akan mengganggu Anda untuk tidak bisa tertawa, makan dan bergerak secara bebas.
  9. Mandi seka. Selama berhari-hari Anda tidak diperbolehkan mandi air pancuran atau diguyur, tapi harus diseka sampai benang jahitan diangkat.
  10. Angkat jahitan. Jahitan atau klip yang menyatu dengan kulit daging akan diangkat sekitar 4 sampai 10  hari pasca operasi. Tidak terlalu menyakitkan, tetapi akan sedikit tidak nyaman. Tanyakan pada dokter atau perawat sampai kapan luka jahitan benar-benar sembuh dan perubahan apa saja yang terjadi dalam batasan wajar atau normal, dan kapan diharuskan mendapat perhatian medis.

Jika Allah memberi kemudahan kita untuk dapat merasakan persalinan normal dan nikmatnya sakit sebelum kelahiran bayi kita, mengapa kita harus melakukan Caesar hanya demi mengurangi sakit yang ditimbulkan kontraksi rahim tanpa ada  indikasi medis? Padahal ada  banyak kekurangan dari tindakan pembedahan tersebut.

Wallahu 'alam.

 

Bagikan :