Sahabat Nabi SAW Generasi Terbaik Umat Islam
Easystem   15 September 2018   Dibaca 129 kali  

 SAHABAT Rasulullah SAW adalah perantara antara kita dengan Rasulullah SAW. Semua ilmu agama, baik ushul (pokok) maupun furu' (cabang)nya, dan dalam memahami ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tafsirnya maupun hadits yang sampai kepada kita saat ini, semua itu datang melalui perantara para sahabat Rasulullah SAW. Merekalah generasi terbaik umat ini. Lalu bagaimanakah sikap Ahlus-Sunnah kepada meraka? Marilah kita simak pembahasan ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

 Siapakah para "sahabat'?

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani R.A mengatakan: "Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau, dan meninggal di atas Islam, termasuk orang yang bermajelis dengan beliau meskipun hanya sebentar, termasuk pula orang yang meriwayatkan hadits dari beliau maupun tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau meskipun beliau karena buta dalam majelis beliau, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta akan tetapi pernah bertemu dengan beliau. Dan yang termasuk dalam definisi ini, orang yang beriman lalu murtad (keluar dari Islam) kemudian kembali lagi ke dalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam, seperti Asy'ats bin Qois RA." (al-Ishobah fi Tamyizish-Shohabah: 1/7-8)

 Adapun orang yang beriman kepada Allah Azza Wajalla dan Rasul-Nya SAW, hidup satu masa dengan beliau tapi belum pernah berjumpa dengan beliau maka tidak dinamai "sahabat", seperti halnya Raja Najasyi. (Lihat Jami'usy-Syuruh al-Aqidah ath-Thohawiyyah: 2/1199)

 Kemudian persyaratan yang paling pokok agar bisa disebut "sahabat" adalah beriman kepada Rasulullah SAW dan meninggal di atas agama Islam. Oleh karena itu, orang yang bertemu dengan beliau dan beriman kepada beliau namun meninggal dalam keadaan murtad-wal 'iyadzu billah-bukan termasuk kategori sahabat, seperti Ubaidillah bin Jahsy suami Ummu Habibah R.A. Pasutri ini masuk Islam kemudian hijrah ke Habasyah, namun setelah itu Ubaidillah bin Jahsy memeluk agama Nasrani dan meninggal dalam kekufurannya.

Pujian Allah Azza Wajalla dan Rasul-Nya SAW kepada Para sahabat

Para Ulama Ahlus-Sunnah wal Jama'ah sepakat bahwa semua sahabat Rasulullah SAW adil. Maksudnya, periwayatan mereka diterma tanpa proses penelitian, karena Allah Azza Wajalla dalam Al-Qur'an telah memuji mereka dan meridhoi mereka. Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian Allah Azza Wajalla. Sungguh banyak dalam nash Al-Qur'an dan As-Sunnah maupun astar sholih yang menyebutkan tentang pujian dan keutamaan para sahabat, namun kami akan menyebutkan hanya sebagainnya saja karena keterbatasan tempat.

Allah Azza Wajalla berfirman dalam al-Qur'an (artinya):

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 100)

 Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir R.A mengatakan: "Allah Azza Wajala mengabarkan baha Dia telah meridhoi orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan kaum Anshor, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka alangkah celaka orang-orang yang membenci dan mencela mereka atau sebagian dari mereka. Apalagi terhadap pemuka/tokoh para sahabat setelah Rasulullah SAW, yaitu sahabat pilihan, kholifah paling agung, ash-Shiddiq al-Akbar, (yaitu) Abu Bakar bin Abu Quhafah." (Tafsir Ibnu Katsir: 2/422)

Dalam ayat lain Allah Ta'ala berfirman (artinya):

 Sesungguhnya Allah telah ridho orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat(waktunya). (QS. al-Fath [48]: 18)

Rasulullah SAW bersabda (artinya): "Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi." (HR. Bukhori: 2652, Ahmad: 1/378, 422, Tirmidzi: 3859)

 Ibnu Mas'ud R.A mengatakan: "Barang siapa di antara kalian yang ingin mencari teladan, maka teladanilah para sahabat Nabi SAW. Sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit membebani Rasulullah SAW. Ketahuilah, pada mereka ada banyak keutamaan ikutilah atsar-atsar mereka, sesungguhnya mereka berada pada petunjuk yang lurus." (Syarhus-Sunnah Imam Ahmad bin Hanibal: 26, dinukil dari Jami' Bayan al-Ilmi Ibnu Abdil Bar: 1810)

Hukum Mencela Para Sahabat R.A

 Telah menjadi keharusan sebagai hamda yang beriman kepada Allah Azza Wajalla untuk mencintai para sahabat Rasulullah SAW, karena merekalah yang menyebarkan agama Islam. Mereka senantiasa menemani Rasulullah SAW di saat-saat yang susah payah dalam berjihad di jalan Allah Azza Wajalla, terjun langsung di medan pertempuran, seperti ketika perang Badar, Uhud, Khondaq, dan yang lainnya. Mereka pun dengan setia menemani beliau ketika berdakwah.

 Akan tetapi, kita tidak boleh cinta kepada mereka secara berlebih-lebihan, apalagi sampai mendewa-dewakan salah satu dari mereka, seperti halnya kelompok Rofidhoh (Syi'ah) yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlu bait (keluarga Rasulullah SAW) dan mengkafirkan sahabat yang lain. Mereka lebih terkenal dengan nama "kelompok syiah" atau "agama Syi'ah" larena aqidah mereka berbeda dengan aqidah kaum muslimin. Di antara mereka ada yang mengaggap Ali R.A sebagai ilah (tuhan yang berhak disembah). Awal munculnya kebid'ahan mereka adalah pada masa khalifah Ali bin Abi Tholib R.A. Salah satu tokoh dan gembong Rofidhoh yaitu Abdullah bin Saba' mengatakan kepada Ali: "Engkau adalah ilah". Kemudian Ali pun memerintah para sahabat untuk memerangi orang-orang yang mengikuti paham ini.

 Kita juga tidak boleh membenci mereka para sahabat R.A, apalagi sampai memusuhi mereka seperti halnya kelompok Khowarij yang keluar untuk memerangi sahabat Ali bin Abi Tholib R.A, karena tahkim (berhukum) kepada selain Allah Azza Wajalla. Madzhab mereka adalah berlepas diri dari sahabat Utsman dan Ali R.A serta keluar dari imam yang tidak berhukum dengan hukum Allah Ta'ala, mengkafirkan pelaku dosa besar dan menganggapnya kekal di dalam neraka (lihat Lum'atul I'tiqod: 161-162). Oleh karena itu, barang siapa yang membenci dan mencela sahabat Rasulullah SAW berarti ia telah menancapkan tonggak permusuhan terhadap Allah Ta'ala dan Rasul-Nya SAW.

 Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW (artinya): "Janganlah kalia mencela salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah satu di antara kalian berinfaq sebesar Gunung Uhud, maka tidaklah bisa menyaai mereka walau satu mud atau setengahnya (dari apa yang mereka infaqkan)." (HR. Bukhori: 3673, Muslim: 6435)

 Atas dasar ini, barang siapa yang mencela dan membenci para sahabat maka berarti ia telah menerjang larangan Rosul, dan ini merupakan dosa besar.

Sikap Ahlus-Sunnah Terhadap Sahabat R.A

Alangkah bagusnya perkataan Imam Abu Ja'far ath-Thohawi Rohimahumullah: "Kita mencintai para sahabat Rasulullah SAW namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kita juga tidak bersikap meremehkan seorang pun dari mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka dan yang menyebut mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah bentuk pengalaman ad-Din (agama), keimanan, dan ihsan. Sedang membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas." (al-Aqidah ath-Thohawiyyah: 18)

Ancaman Bagi Orang yang Menyelisihi Jalan Para Sahabat R.A.

Allah Ta'ala berfirman (artinya):

Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu'min (para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang dikuasainya itu dan Kamu masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. an-Nisa' [4]: 115)

Merealisasikan Cinta Kepada Para Sahabat Rasul SAW

 Al-'Allamah Syaikh Sholih Alu-Syaikh Rahimahumullah (Jami' usy-Syuruh al-Aqidah ath-Thohawiyyah: 1/1204) menuturkan: "Cinta kepada sahabat adalah kewajiban. Dan inilah bentuk loyalitas (kesetiaan) kepada sahabat Rasul SAW. Cinta kepada mereka dapat diwujudkan dengan:

  1. Menanamkan rasa cinta kepada mereka di dalam hati.
  2. Memuji mereka pada setiap keadaan, dengan mengucapkan 'Radhiyallahu 'anhu" (artinya: semoga Allah meridhai mereka) tatkala disebut nama mereka.
  3. Tidak membawa perbuatan mereka kecuali di atas kebaikan. Mereka semua hanya mengharap wajah Allah Ta'ala.
  4. Menolong mereka sebagai wujud cinta dan loyalitas kepada mereka, yaitu menolong mereka tatkala disebut dengan kejelekan, tatkala ada orang yang merendahkan mereka, atau ada orang yang ragu terhadap sifat shidq (kejujuran) dan keadilan mereka. Dalam keadaan semacam ini kita wajib menolong mereka."

 Di akhir risalah ini, kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin di manapun berada, marilah kita wujudkan rasa cinta kepada sahabat Rasulullah SAW, membela mereka tatkala mereka di cela dan dihina. Ketahuilah bahwa mereka adalah sebaik-baiknya umat ini, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda (artinya): "Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi." (HR. Bukhori: 2652, Ahmad: 1/378, 442, Tirmidzi: 3859)

Sumber: Buletin al furqon tahun ke-2 vol. 12 NO.4 

 
Tags :
7 10 13

Bagikan :


Baca Juga

Jadwal Kajian