fiqih buah hati
Easystem   13 September 2018   Dibaca 111 kali  

anak adalah sebuah anugerah agung dari sang pencipta yang diberikan kepada kita semua. oleh karena itu, kita wajib mensyukurinya. banyak perwujudan rasa syukur yang dihaturkan ke hadirat rabbul izzati atas hadirnya sang buah hati. ada yang menghelat pesta pora nan megah, ada lagi yang mengadakan upacara dan ritual tertentu yang konon itu semua adalah warisan dari ajaran leluhur yang bisa menolak bala dari sang buah hati atau dapat memberkatinya. dan masih banyak lagi yang lain. lantas, bagaimanakah sebenarnya dengan petunjuk agama islam? islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan tuntunan dalam momentum yang menggembirakan ini sebagai perwujudan rasa syukur orang tua ke hadirat allah atas kehadiran si kecil.

hal-hal yang perlu diperhatikan seorang murabbi

setelah kehairan si buah hati, tentunya orang tua harus siap memikul amanah yang diberikan oleh allah ini. kita sebagai orang tua atau calon orang tua, mempunyai  tanggungan yang harus ditunaikan dalam si kecil ini. dan hal itu kami kategorikan menjadi dua bagian dua sebagian seperti berikut:

1. hal yang harus diperhatikan orang tua/calon orang tua sebelum persalinan

a. berusaha mencari pendamping hidup yang shalih dan shalihah. karena akan sangat sulit sekali bila kita mendambakan keturunan yang shalih namun bersumber dari asal yang thalih. hal ini berdasarkan sabda nabi: "pilihlah wanita yang memiliki agama maka engkau akan beruntung!"

b. berdo'a kepada allah agar diberi keturunan yang shalih dan shalihah, sebagaimana dahulu ibrahim al-khalil pernah berdo'a ketika meminta keturunan yang shalih kepada allah.

c. berdo'a agar dijauhkan dari gangguan setan ketika jima' dengan berdo'a yang telah diajarkan oleh rasulullah.

d. hendaknya dengan kehamilan yang tengah berlangsung itu didasari untuk melaksanakan pesan rasulullah:"nikahlah kalian dengan wanita yang subur lagi kasih sayang, sesungguhnya aku kelak akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian terhadap umat yang lain!"

2. kewajiban orang tua setelah si kecil hadir di dunia

dan dalam masalah ini banyak sekali kewajiban yang dibebankan oleh allah terhadap murrabi (pendidikan), di antaranya:

a. disunnahkan untuk mentahnik si kecil

b. pada umur tujuh hari, si kecil, disunnahkan unuk dikhitan, jika anak laki-laki maka ia wajib hukumnya.

c. diaqiqahi karena ia masih tergadai.

d. memotong rambutnya pada hari ketujuh kemudian bersedekah seberat rambut yang telah dipotong tadi berupa perak.

e. disunnahkan untuk memberikan nama-nama yang bagus untuk si kecil.

f. dianjurkan menyusui anak selama dua tahun.

g. mengajari anak-anak ajaran agama islam dengan benar.

beberapa hal yang perlu untuk diluruskan

dalam masyarakat indonesia banyak sekali dijumpai kesalahan-kesalahan yang dianggap lumrah oleh kebanyakan kaum muslimin. tak terlepas juga terkait momentum kehadiran si kecil di tengah-tengah kita. baik itu pra maupun pasca kelahirannya.

  1. semisal mengadakan upacara lepas sial pada bulan ke-7 usia kandungannya, karena beranggapan bahwa si jabang bayi bila tidak diselamati akan terkena ancaman dari betera kala si pembawa bencana dan kesialan.
  2. menamai anak-anak dengan nama yang maknanya tidak dipahami atau dengan nama-nama yang dilarang oleh agama islam.
  3. dalam hal mengadzani bayi di telinga kanan lalu iqamah di telinga kiri maka menurut pendapat yang lebih kuat adalah tidak dianjurkan, karena dasar dalam masalah ini tidak ada yang shahih.
  4. hanya memotong sebagian rambut si kecil dan meninggalkan sebagian yang lain.
  5. membatasi kelahiran anak atau KB.

akhir kata

saudaraku yang dirahmati oleh allah kehadiran si kecil di tengah-tengah kita benar-benar merupakan sebuah nikmat yang sangat indah. oleh karena itu, mari kita perindah nikmat yang diberikan oleh allah kepada kita dengan hiasan amalan-amalan sunnah yang saat ini tengah dilupakan oleh kebanyakan saudara kita kaum muslimin. akhirnya semoga kita di berikan taufiq oleh-Nya dalam berkata dan berbuat, sesungguhnya allah adalah satu-satunya tempat memohon dan berharap.

 

 

 

sumber: buletin al furqon tahun ke-5 volume 3 no. 3

 

Bagikan :