Istighatsah yang disyari’atkan dan yang terlarang
Easystem   13 September 2018   Dibaca 104 kali  

Allah berfirman :

     Apakakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman" sedang tidak diuji lagi. (QS. AL - Ankabut [29]:2)

    Ayat di atas menunjukkan bahwa sudah menjadi kepastian bagi orang yang mengatakan. "Kami beriman" untuk mendapatkan ujian baik besar maupun kecil. Maka sikap yang bijak bagi seorang musllim adalah bersabar dan menempuh jalan syari yang telah dicontohkan oleh Rasulullah karena tidak ada jalan keselamatan kecuali mengikuti petunjuk Rasulullah.

    Di antara yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya ketika mendapat ujian yang berat adalah memanjatkan do'a kepada Allah atau diistilahkan dengan istighatsah. Dan insya Allah pada kesempatan ini dengan mengharap taufiq dari Allah kami akan membahas sedikit tentangnya. Semoga bermanfaat.

Pengertian Istighatsah

Istighatsah adalah meminta keselamatan dari kesukaran yang sangat dan dari kebinasaan.

    Antara istighatsah dan do'a sangat erat kaitannya, yaitu antara khusus dan umum: istighatsah adalah meminta keselamatan dari kesukaraan yang sangat dan dari kebiasaan, sedangkan  do'a adalah meminta atau memohon baik dari keselamatan atau yang lainnya, sehingga do'a lebih umum dari pada istighatsah.Oleh karena itu, barang siapa yang memalingkan istighatsah kepada selain Allah maka ia telah berbuat syirik yang berarti dia telah memalingkan do'a kepada selain-nya. Karena do'a itu adalah ibadah - ibadah yang wajib ditujukan hanya kepada Allah dan memalingkan kepada selain-nya adalah perbuatan syirik.

Dalil Disyari'atkannya Istighatsah

Allah berfirman:

 (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankannya bagimu, "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut - turut."(QS. AL-Anfal [8]:9)

Macam - Macam Istighatsah

  1. Yang disyari'atkan dan yang dibolehkan

a. Istighatsah kepada Allah.

    Ini merupakan salah satu amalan yang paling utama dan paling sempurna tingkatannya, karena perbuatan ini adalah kebiasaan para nabi rasul serta para pengikutnya ketika mendapatkan permasalahan yang besar. Kalau kita menengok pada sejarah islam, maka kita akan dapati bahwa Nabi Muhammad pernah melakukannya tepatnya pada tahun kedua Hijriah yaitu pada perang badar, tatkala beliau melihat jumlah kaum muslimin yang ada pada waktu itu tidak sepadan dengan jumlah kaum musyrikin, yaitu: sekitar 300 jumlah kaum muslimin dan 1.000 orang dari kaum kafir, maka Rasulullah masuk ke tendanya lalu bermanjat kepada Allah seraya mengangkat kedua tangannya dan menghadap kiblat kemudian mengucapkan, "Ya Allah, penuhilah untuku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. ya Allah, jika Engkau membinasakan sekelompok kaum muslimin ini maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi." (HR. Muslim:4588)

b. Istighatsah kepada orang yang hidup

  Maksudnya adalah orang yang hidup, hadir dan mampu memberikan pertolongan. Maka yang seperti ini hukumnya boleh. Hal ini  sebagaimana yang dilakukan orang Qibti yang meminta pertolongan kepada Nabi Musa agar diselamatkan dari musuhnya, maka beliau (Nabi Musa) memukulnya (musuh orang Qibti) sekali lalu dia meninggal. Akan tetapi, yang harus di perhatikan adalah hendaklah kita menyakini bahwa dia hanyalah sebab terwujudnya keinginan seseorang, karena Dia maha kuasa untuk memalingkan hati seseorang, sehingga dia tidak taat kepadamu sebagaimana juga dia maha kuasa apabila engkau makan lalu tidak kenyang maka tidak hilanng rasa laparmu. karena dia adalah dzat yang maha kuasa terhadap segala sesuatu dan melakukan segala apa yang dia inginkan dengan hikmah-nya.

       2. Iistighatsah yang terlarang

a. Istighatsah kepada orang yang telah meninggal

  Istighatsah kepada orang yang sudah meninggal atau orang yang hidup tetapi tidak hadir di hadapnnya atau orang yang tidak mampu menolongnya; itu semua terlarang bahkan termasuk perbbuatan syirik dalam rububiyyah, karena tidaklah dia melakukannya kecuali dia menyakini bahwa pada orang - orang tersebut mempunyai kemampuan dalam pengaturan alam semesta lalu dia meminta pertolongan kepada orang - orang yang telah meninggal dan sebagai nya. Allah berfirman:

        Atau siapakah yang mengabulkan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia)  sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat(Nya). (QS. An-Naml: 62)

Ayat di atas menunjukkan wajibnya meminta pertolongan hanya kepada Allah, Karena Dialah yang dapat menghilangkan kesusahan, kepedihan, dan segalaa permasalahan yang dihadapi oleh manusia.

b. Istighatsah kepada orang yang hidup tetapi dia tidak mampu

    Maka ini pun terlarang, meskipun tidak ada keyakinan bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan dalam pengaturan alam. Karena perbuatan ini merupakan sikap laghwun (kesia-siaan) bahkan dapat menumbuhkan rasa sombong pada diri orang yang dimintai pertolongan tersebut.

Contoh:orang yang tenggelam meminta pertolongan kepada orang yang lumpuh, hal yang seperti ini juga dapat menipu orang lain sehingga seakan - akan orang tersebut bisa menghilangkan kesusahan orang lain, padahal sebenarnya tidak.

Bagaimana kaidahah agar lebih mudah memahami permasalahan di atas ?

Berikut ini kami berikan kaidah atau pegangan untuk mempermudah pemahaman:

  1. Hendaklah kita senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dalam segala urusan kita, terlebih lagi dalam permasalahan yang berat. Karena sesungguhnya Allah-lah satu-satunya yang dapat menyelesaikan segala permasalahan, sedang yang lain ia hanya sebagai wasilah atau sebab saja.
  2. Boleh meminta pertolongan kepada selain Allaah (makhlu) apabila dia mampu, dengan syarat: (1) orangnya masih hidup, (2) ia hadir di hadapan nya,(30) tidak mustahil baginya  untuk melakukannya. Maka apabila ada seorang yang meminta kepada orang yang telah meninggal untuk menolak mudharart darinya atau kepada orang yang hadir, tetapi mustahil untuk dimintai seperti meminta untuk diturunkan hujan maka hal ini tidak diperbolehkan bahkan masuk ke dalam kesyirikan.

Adab - adab dalam istighatsah

    Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa istighatsah termasuk do'a. maka di sini akan kami sebutkan di antara  adab - adab dalam berdo'a supaya do'a terkabulkan. Di antaranya adalah:

  1. Hendaknya orang yang berdo'a mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma'wa shifat-Nya

  2. Seorang yang berdo'a menyekini sesungguhnya Allah saja yang mampu mengabulkan do'anya baik untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudharat.

  3. Mewujudkan dua rukun diterima suatu amalan, ikhas dan mutaba'ah (meneladani Nabi)

  4. Tidak melempaui batas dengan berbuat dosa atau memutuskan tali silaturahmi,

  5. Tidak tergesa - gesa atau putus  asa dari terkabulnnya do'a. karena sesungguh nya kita berdo'a kepada Rabb yang maha mulia.

  6. Mengawali do'anya dengan pujiaan dan sanjungan kepada Allah serta bershalawat dan salam kepada Nabi.

Penutup

   Merupakan hikmah Allah, senantiasa Dia memberikan jalan keluar yang mudah bagi hamba-nya yang bertakwa dalam segala urusan dan problem yang ia hadapi, di antaranya adalah dengan melakukan istighatsah ketika mendapatkan keadaan yang genting, maka janganlah kita berpaling dari syariat-Nya dengan pergi kepada 'orang pintar' atau ke paranormal karena hal ini akan menambahan rumit masalah, menghabiskan harta, dan membahayakan agama kita. Wallahua a'lamu bishshawab.

 

Bagikan :