Usaha Abu Bakar Menyelamatkan Keutuhan Daulah Islamiyyah
Easystem   12 September 2018 | update 15 September 2018   Dibaca 99 kali  

Di zaman sekarang banyak kaum muslimin yang mengidamkan kejayaan Islam dan keadilan yang merata layaknya terjadi pada generasi awal kita. Pada generasi yang dipimpin oleh Khulafa' Rasyidun, yaitu para pemimpin yang mendapat petunjuk dari Allah dalam memimpin Islam Sepeninggal Rasulullah. Merekalah para pemimpin yang menggantikan tugas-tugas Rasulullah sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dan pemimpin umat dalam agama. Para tokoh ini merupakan orang-orang yang arif bijaksana, jujur dan adil juga memiliki andil besar dalam memberikan keputusan dan menyelesaikan masalah yang timbul dalam masyarakat. Tak heran bila Rasulullah berkata:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi.

Dan inilah sedikit gambaran dari perjalanan para pemimpin yang mulia tersebut.

ABU BAKAR, KHALIFAH PERTAMA YANG TAWADHU'

Nama beliau Abdullah bin Utsman bin Amir al-Qurasyi at-Taimi. Selama jahiliah bernama Abdul Ka'bah atau Abdul Uzza. Setelah masuk Islam bernama Abdullah bin Utsman. Utsman adalah nama ayahnya yang lebih dikenal dengan Abu Quhafah. Ibu Beliau adalah Ummul Khair, Salma binti Shakhr.

Imam an-Nawawi berkata, "Abu Bakar termasuk tokoh Quraisy di masa Jahiliah, orang yang selalu dimintai nasihat dan pertimbangannya, sangat dicintai dikalangan mereka, sangat mengetahui berbagai solusi dalam masalah yang terjadi di kalangan mereka. Tatkala Islam datang, Abu Bakar mengedepankan Islam atas yang lain dan beliau masuk Islam dengan sempurna. Demikianlah memang kenyataannya.

Setelah menyandang gelar Khalifah, tak lantas membuat Abu Bakar merasa tinggi layaknya orang-orang yang lemah hatinya merasa tinggi di hadapan orang lain. bahkan, ketika Abu Bakar terbiasa memerahkan susu kambing penduduk kampung tempatnya tinggal, di bilangin Sunhu, di saat kabar pembai'atannya telah tersebar, seorang anak wanita kampung itu berkata, "Sekarang tidak ada lagi yang memerahkan susu untuk kita." Abu Bakar mendengarnya. Kira-kira apa yang akan beliau lakukan? Abu Bakar berkata,"Tentu saja, sungguh aku akan tetap berusaha memerahkan untuk kalian dan aku pun memohon kepada Allah agar tidak mengubah sifatku ketika aku telah masuk pemerintahan."

Bahkan, pemimpin mana sekarang yang rela berjaga malam di kampungnya mengawasi keadaan dan keamanan masyarakat kampungnya?! Inilah Abu Bakar sang Khalifah itu, berjaga malam ketika Madinah ditinggal oleh pasukan Usamah yang berangkat ke Syam karena khawatir sesuatu yang jelek menimpa rakyatnya!

KEBIJAKSANAAN ABU BAKAR DIUJI

Ketika Abu Bakar mulai menjajakan kakinya dalam estafet pemerintahan, saat itu pula kepiawaian dan kebijaksanaannya dalam memimpin diuji. Di antara masalah serius yang dihadapi beliau untuk menetukan kebijakannya yang tepat adalah tatkala ramainya masyarakat Arab Murtad dan enggan membayar zakat. Di sisi lain, beliau tetap bersikeras mengirimkan pasukan yang dipimpin Usamah ke Syam yang sempat tertunda akibat kematian Rasulullah.

Tidak sedikit sahabat yang menyangsikan kebijakan yang diambil Abu Bakar tersebut. Pikir mereka, mengapakah Abu Bakar tidak menunda pengiriman pasukan Usamah dan menyelesaikan dahulu urusan dalam negeri dengan membereskan para nabi palsu, murtaddin dan pemberontak? Namun, itu semua tidak menggoyahkan niat Abu Bakar untuk tetap mengirimkan pasukan Usamah ke Syam. Abu Bakar berkata, "Demi Dzat yang tiada ilah selain-Nya, seandainya anjing dan serigala melolong di bawah kaki istri-istri Nabi, niscaya aku tidak akan pernah membatalkan rombongan pesukan yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah atau menurunkan panjinya!"

Rupanya Abu Bakar berpandang lain dengan rata-rata para sahabat. Beliau sangat yakin dengan pilihannya karena ingin melaksanakan apa yang sempat tertunda dari wasiat Rasulullah. Toh, dengan tetap mengirimkan pasukan Usamah, masyarakat Arab yang daerahnya dilewati tentara tersebut akan gentar, karena dugaan mereka selama ini meleset. Yaitu, ketika Nabi wafat, kekuatan kaum muslimin pasti melemah. Ternyata, hasil yang mengejutkan didapat. Usamah pulang dengan membawa kemenangan! Allahu Akbar!!

Satu lagi, ketika Abu Bakar melihat banyaknya masyarakat Arab yang enggan membayar zakat, beliau putuskan agar diperangi. Namun sahabt semisal Umar bin Khaththab pada mulanya tidak setuju, dengan anggapan mereka telah mengucapkan kalimat syahadat, dan barangsiapa yang mengucapkannya maka dia muslim dan tidak boleh di perangi kecuali dengan alasan yang dibenarkan. Lagi-lagi pandangan Abu Bakar lebih jauh. Beliau berkata, "Demi Allah, seandainya mereka tidak membayarkan zakat binatang yang dahulu mereka bayarkan semasa Rasulullah, niscaya mereka akan tetap kuperangi!" beliau meyakinkan Umar bahwa zakat adalah salah satu fondasi agama, layaknya shalat. Dan, bila masyarakat Arab dibiarkan untuk tidak membayar zakat sementara waktu, bukan hal yang mustahil mereka juga akan menyia-nyiakan hak shalat setelah itu.

PROYEK BESAR DAN PENAKLUKAN SEMASA ABU BAKAR

  1. Pengumpulan al-Qur'an

Saat Nabi masih hidup, manusia tidak merasa khawatir tentang kelangsungan al-Qur'an. Lantaran ia akan senantiasa tersimpan dalam dada orang yang menghafalnya. Namun seiring dengan berlalunya waktu dan terjadinya pemberontakan dimana-mana, mengakibatkan banyak para penghafal al-Qur'an gugur. Mulailah kaum muslimin khawatir tentang keberadaan kitab suci mereka. Harus ada cara untuk menjaga al-Qur'an agar dapat dibaca oleh generasi penerus Islam. Umar mengatakan kepada Abu Bakar, bahwa al-Qur'an harus segera dikumpulkan dari tempat yang terpencar. Abu Bakar pun sependapat. Mulailah beliau mencari sahabat-sahabat Nabi yang terkenal sebagai penulis wahyu (semisal Zaid bin Tsabit) untuk mulai mengumpulkan al-Qur'an. dengan ini beliau menjadi manusia yang paling berjasa dalam al-Qur'an, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali.

      2. Era baru ekspansi kaum muslimin

Walaupun masa kekuasaan Abu Bakar tidak lebih dari dua tahun setengah, namun itu tidak menyurutkan semangat juangnya. Terbukti dengan banyaknya pengiriman tentara dan satuan perang yang mengusung berbagai misi, di Persia atau Romawi. Dengan memilih para panglima yang tepat, beliau melebarkan sayap dakwah ke negeri Kisra dan Kaisar. Bahkan, sebelum wafatnya Abu Bakar telah mengirim pasukan besar ke Yarmuk. Hanya saja kemenangan pasukan ini belum dapat dilihat oleh beliau, lantaran ajal telah mendahuluinya.

      3. Penyatuan Arab pasca pemberontakan 

Masa Abu Bakar adalah masa kemelut dalam negeri. Masalah yang dihadapi sangat kompleks. Mulai dari orang-orang yang murtad, yang enggan membayar zakat, pun yang mengaku sebagai Nabi palsu semisal al-Aswad al-Ansi atau Musailamah. Namun, dengan hanya melewati masa dua setengah tahun Abu Bakar dapat mengatasi masalah tersebut. Tentunya hal ini sulit untuk dilakukan bila beliau tidak mempunyai pembantu yang shalih dan bagus untuk bermusyawarah.

 

Bagikan :