Ketika Pasutri Belum Juga Punya Anak
Easystem   10 September 2018   Dibaca 101 kali  

Problem kehidupan suami istri begitu beragam. Di antaranya ialah masalah keturunan. Masalah satu ini ada kalanya timbul sebab anak itu sendiri yang sulit dibina dan diarahkan. Namun tak jarang, masalah seputar  anak yang timbul lantaran telah lamanya berumah tangga, tapi anak tak kunjung tiba.

Masalah belum mendapat keturunan merupakan problem yang banyak menimpa suami istri. Tidak sedikt dari mereka yang menderita sebab belum memiliki anak.

Bila suami menderita sebab belum mendapat karunia seorang anak, bisa jadi si istri lebih menderita lagi. Menilik bahwa sifat hamil dimiliki oleh si istri, maka wajar bila ia lebih menanggung derita ketimbang suaminya. Istri merasa lebih tertekan batinnya saat ia mendapati para wanita sebayanya atau bahkan yang lebih muda usia maupun pernikahannya sudah menimang si kecil yang berceloteh di gendongannya. Belum lagi tentang orang sekitar yang seakan memandang sebelah mata terhadap dirinya.

Punya anak adalah fitrah manusia

Mengapa suami yang belum mendapat keturunan merasa menderita? Mengapa pula si istri yang belum juga hamil pun sangat merana? Karena masing-masing suami istri merasa ingin memiliki anak sebagai penyejuk hati dan pemuas keinginan menikmati indahnya dunia. Sebab Allah telah menjadikan anak sebagai salah satu perhiasan dunia yang menarik. Lagi pula masing-masing suami istri yang beriman berharap memiliki keturunan yang akan meneruskan perjuangan peribadahan mereka kepada Allah. Itulah fitrah yang Allah tetapkan ada pada diri kita. Karenanya, seluruh manusia, termasuk suami istri sangat mengharapkan kehadiran anak.

Saat suami merasa bersalah sebab telah lama beristri namun belum hamil juga, terlebih bila ingat pandangan manusia terhadapnnya; sosok lelaki mandul yang tak bisa memberi keturunan. Bertambahlah penderitaannya.

Begitu juga saat istri merasa bersalah akibat belum bisa memberikan keturunan buat suami, ditambah seringnya ia mendapati wajah suami menyimpan keinginan mendalam untuk segera menimang anak yang dilahirkan olehnya. selain raut wajah suami yang menggambaarkan kekecewaan,ia merasa suaminya seakan mengatakan, "...akan tetapi kamu tidak juga bisa melahirkan anakku." Lengkap sudah penderitaan istri.

Semua ini menunjukkan bahwa masing-masing suami dan istri difitrahkan untuk senang dengan kehadiran anak keturunan.

Lahirnya anak merupakan takdir Allah

Perlu ditegaskan, bahwa kelahiran seorang anak bukan kuasa pasutri, tetapi takdir Allah. Sehingga wajar bila kenyataannya masing-masing suami istri berbeda-beda takdirnya tentang anak. Ada yang menunggu sampai beberapa bulan bahkan sampai hitungan tahun, perut istri belum juga berisi. Ada juga yang sebaliknya. Pendeknya, masalah hamil dan tidaknya istri bukan kuasa mereka berdua yang dapat mereka usahakan.

Sebagai pasutri muslim harus menyadari, bahwa hamil atau tidak hamilnya si istri merupakan cobaan dari Allah untuk menguji sebagian manusia dengan kehamilan atau anak-anak, dan menguji sebagian lainnya dengan kemandulan selama masa yang dikehendaki-Nya. Tentunya masing-masing ujian mengandung hikmah yang berbeda pula.

Hal yang tidak boleh dilalaikan adalah, bahwa takdir Allah yang paling baik ialah yang kita dapati. Hanya terkadang kita bisa segera memahami hikmahnya, pun terkadang kita tidak bisa memahami hikmah di baliknya.

Takdir Allah terjadi dengan sebab

Tatkala pasutri ditakdirkan belum juga memiliki anak, tentunya takdir yang demikian itu ditetapkan melalui sebab-sebabnya. Sama tatkala pasutri ditakdirkan memiliki anak, pun ditetapkan dengan sebab-sebab.

Anak keturunan salah satunya ditetapkan menjadi hasil dari sebuah pernikahan. Allah mengaruniakan anak-anak keturunan kepada pasutri yang Dia kehendaki.

Jadi, anak merupakan karunia yang Allah berikan dari balik sebuah pernikahan. Hal ini juga mengingatkan bahwa kita bahwa wajar apabila pasutri yang belum dikaruniai keturunan menderita dan merana. Sebab mereka merasa belum diberi karunia oleh Allah dari hikmah pernikahan mereka berdua. Justru tidak wajar bila ada pasutri yang tidak berkeinginan mendapat karunia Allah dan memiliki anak atau pasutri yang berputus asa, sehingga tidak lagi memiliki harapan mendapatkan anak. Sungguh, ini diluar fitrah dan lepas dari hikmah pernikahan.

Demikian juga belum mempunyai anak, juga ketetapan takdir yang ada sebab-sebabnya. Apabila sebab-sebabnya tidak ada maka Allah dengan rahmat-Nya akan mengaruniakan anak buat pasutri atau akan dipilihkan yang paling baik buat mereka sesuatu yang lain. Maka pasutri harus berusaha mencari tahu sebab apa yang menjadikan dirinya belum juga dikaruniai anak?

Ada kemandulan?

Dimaklumi bahwa di antara sebab belum memiliki anak ialah kemandulan. Baik yang ada pada suami maupun istri. Apabila salaah satu pasutri memang ada kemandulan sehingga belum juga ada kehamilan, hendaknya mereka berusaha dengan, maksimal agar masing-masing bisa bersabar. Dengan sifat kasih sayang, mereka harus bisa memberi pengertian kepada pasangannya dan menjadikannya memahami hikmah yang baik di balik belum datangnya anak. dan hendaknya bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah atas takdir menjadi suami atau istri yang belum bisa memberikan keturunan yang memang di luar kuasa keduanya.

Khulu dan Poligami?

Apabila suami diyakinkan mandul, kemudian si istri menderita sebab kemandulan suami sehingga tidak bisa menunaikan kewajibannya terhadap suami dengan baik, apabila ia menghendaki perpisahan dan menikah dengan lelaki lain yang tidak mandul, suami hendaknya berlaku bijak dan belapang dada menceraikan istrinya atau mengiyakan permintaan khulu' istrinya.

Ketika suami mendapati kenyataan yang sebaliknya, sedangkan ia suami yang tanggung jawab, mampu beristri dua atau lebih, maka istri harus bersikap bijak juga, berlapang dada menerima kemauan suami memadunya. Sebab bagaimanapun, justru poligami jauh lebih baik daripada perceraian semata.

Buah sabar dan takwa

Namun sabar dan takwa tetap lebih baik akibatnya. Perhatikan bagaimana Nabi Zakariya berdoa. Dengan sabar, takwa, ketulusan serta ketundukkan beliau panjatkan doanya, sehingga Allah pun memperbaiki organ reproduksi istri beliau yang mandul menjadi bisa mengandung dan melahirkan Nabi Yahya, meski di usia senja.

Perhatikanlah bagaimana Nabi Ibrahim menanti datangnya anak. Sampai 80 tahun penantian dilakukan dengan sabar dan takwa, sehingga Allah mengaruniakan Ismail buatnya, juga di usia senja.

Bila disiapkan sabar dan takwa yang serupa, yakinlah bahwa takdir kedua Nabi Allah tersebut juga bisa ditetapkan buat selain mereka. Insya Allah.

Wallahul muwaffiq.

 

Bagikan :