Zakat Perhiasan
Easystem   08 September 2018   Dibaca 1064 kali  

   Sudah merupakan tabiat kaum hawa untuk senang berhias dan menyenangi perhiasan,oleh karena itu Islam sebagai agama yang sejalan dengan fitrah manusia, memberi kemudahan bagi kaum hawa berupa dihalalkan bagi mereka perhiasan emas. Berbeda halnya dengan kaum laki - laki maka ia diharamkan bagi mereka, Rasulullah bersabda: "Diharamkan pakaian sutra dan emas bagi kaum laki - laki dari ummatku dan halal bagi wanita mereka." (HR.Abu Dawud:4057,Tirmidzi:1720,Nasai 8/160, dan Ibu Majah:3595 dengan sanad yang shahih)

  Dan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas fikih zakat perhiasan, terkhusus perhiasan yang terbuat dari emas maupun perak dan hal-hal yang berkenan dengannya.Semoga bermanfaat.

  1. Perselisihan ulama seputar zakat perhiasan

Maksudnya adalah perhiasan yang terbuat dari emas ataupun perak. Para ulama telah menyepakati adanya zakat pada emas dan perak jika bukan berupa perhiasan karena dalil yang tegas dalam al-Qur'an dalam surat at-Taubah ayat 34-35, namun yang menjadi pembicara mereka adalah jika emas atau perak tersebut digunaakan sebagai perhiasan yang diistilahkan dalam bab fikih dengan zakatul hulli (zakat perhiasan) maka berikut perinciannya:

Terdapat dua pendapat dalam masalah ini:

  1. Tidak wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak yang dipakai.

ini merupakan pendapatnya mayoritas ulama dan sebagian sahabat seperti Ibnu Umar,jabir,Aisyah,Asma' binti Abu Bakar Argumentasi mereka adalah sebagai berikut:

(a) Hadits: "Tidak ada zakat pada perhiasan."

(b) Dari Nafi,' sesungguhnya Ibnu Umar memakaikan pada putri dan anak gadisnya perhiasan emas dan dia tidak mengeluarkan zakatnya.(Riwayat Malik:585,Baihaqi 4/138, dengan sanad yang shahih)

(c) perkataan Ibnu Umar, "Tidak ada zakat pada perhiasan."

(d) Aisyah memakaikan perhiasan pada putra-putri saudara lelakinya yang yatim yang berada dalam pengasuhannya dan dia tidak mengeluarkan zakatnya.

     2. Wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak apabila telah mencapai nishab dan segenap satu tahun sama saja baik dipakai, disimpan, ataupun diperjual belikan.

Dalilnya adalah:

(a) Keumuman firman Allah

          Dan orang - orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (Qs.at- Taubah [9] :34)

Berkata Syaikh Abdurrahman as-Sa'di tidak menafkahkannya di jalan Allah, seperti tidak membayar zakat, tidak memberikan nafkah yang wajib kepada istri atau kerabatnya..."

(b) Keumuman hadits Nabi untuk mengeluarkan zakat dari emas dan perak.Rasulullah bersabda. "Tidaklah seorang pemilik emas yang tidak menunaikan zakatnya kecuali akan dijadikan baginya pada hari kiamat lempengan - lempengan dari api yang dia akan dipanaskan di atasnya dari neraka jahannam maka disetrikakan denganya dahi,lambung,dan punggunya."(HR.Muslim:987-1647) Maka orang memakai perhiasan emas  dan perak dan tidak ada dalil yang mengeluarkan diri keumumannya, maka hak emas dan perak yang paling agung dan paling wajib adalah mengeeluarkan zakatnya.Abu Bakar berkata, "Zakatnya adalah haknya harta."

(c) Terdapat hadits yang menyebutkan adanya zakat perhiasan dari emas dan perak:

     i.Hadits dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, "Sesungguhnya seorang perempuan bersama anaknya datang kepada Rasulullah dan di tangan anaknya ada gelang yang besar dari emas, maka Rasulullah berkata, 'Apakah sudah engkau tunaikan zakatnya? Dia berkata, "Belum.' Lalu beliau bersabda, 'Apakah engkau senang jika Allah memberikan gelang padamu pada hari Kiamat dengan gelang dari api."(HR.Abu Dawud:1563, Nasai 5/38, Tirmidzi:637.Shahih dengan beberapa penguatnya.)

    ii. Dari Asma bin Yazid berkata, "Aku dan bibiku masuk menemui Rasulullah dan dia memakai gelang dari emas lalu beliau berkata, 'Apakah telah kalian tunaikan zakatnya?(Asma'berkata,). Kami menjawab,  "Tidak lalu beliau berkata, ' Tidaklah kalian takut kepada Allah akan memberikan kalian gelang dari api?Tunaikanlah zakatnya!" (HR.Abu Dawud:1565, hadits hasan dengan penguatnya)

(d) Atsar dari para sahabat Nabi

    i. Dari Ibnu Mas'ud "Sesungguhnya seorang perempuan bertanya ke padanya tentang zakat perhiasan, maka beliau menjawab, ' Apabila telah mencapai dua ratus dirham, maka tunaikanlah zakatnya."(Shahih lighairihi,riwayat Abdurrazzaq 4/83,Thabrani 9/371)

    ii Dari Abdullah bin Amr, sesungguhnya dia menulis kepada penjaga hartanya,Salim, supaya mengeluarkan zakat perhiasan putrinya(Sunan ad-Daruquthni,2/107,dengan sanad hasan)

Pendapat yang lebih kuat

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang dibawakan oleh para ulama, maka pendapat yang kuat adalah pendapat yang mewajibkan zakat  perhiasan emas dan perak, apabila telah mencapai nishab dan haul (berjalan satu tahun hijriyah) karena beberapa hal:

    1. keumuman dalil yang mewajibkan zakat emas dan perak, sedangkan perhiasan juga terbuat dari emas dan perak. Padahal sudah maklum dalam ilmu ushul fiqih bahwa lafadz umum harus dibawa pada keumumannya sampai ada dalil yang mnegkhususkannya. Padahal tidak ada dalil yang mengkhususkannya, karena hadits yang yang di jadikan dalil madzhab pertama adalah sebuah hadits yang lemah, dan ucapan para sahabatpun berbeda - beda.

    2. adanya dalil khusus tentang wajibnya zakat perhiasan emas dan perak adalah sebuah dalil yang tak terbantahkan.

    3. Mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak  itu sikap yang lebih hati - hati dalam mejalankaan perintah syar'i.

   Bagaimana dengan perhiasan yang terbuat dari permata,intan,mutiara, dan sebagainya?

Sudah menjadi kaidah yang diketahui kaum muslimin, bahwa ibadah itu adalah itu adalah tauqifiyah, artinya harus berdasrkan dengan dalil, maka asal dari ibadah adalah haram kecuali ada dalilnya.Adapun tentang permata,mutiara,batu marjan,zamrud,batu mulia dan yang semisalnya, meskipun jenis ini lebih mahal dari emas, maka tidak ada zakatnya, karena tidak ada dalilnya, hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Namun ketika jenis perhiasan ini dipejual belikan maka yang ada adalah zakat perdagangan bukan zakat perhiasan.

2. Nisab perhiasan dari emas dan perak

Ulama telah menjelaskan tentang mengenai batas wajib zakat bagi emas dan perak yaitu dalam hitungan kilogram yaitu:

   * Nisab emas  : 85 gram

   * Nisab perak : 595 gram

Berkata Dr. Ibrahim Muhammad Shubaikhi, "Perlu diperhatikan dalam beberapa  fatwa para ulama tentang tidak dibedakanya antara emas murni dengan selainnya ketika menentukan nisab, karena emas yang ada pada masyarakat sekarang bukan semuanya murni bahkan berbeda ukuran karatnya. Maka seperti mata uang saudi adalah 22 karat, dan perhiasan itu mempunyai beberapa ukuran emas yaitu banyaknya campuran selain emas, maka tidak benar apabila itu dianggap masuk jumlah nisab emas, oleh karena itu perlu diperhatikan untuk memisahkannya tatkala menentukan nisab emas murni yaitu 24 karat, maka nisab emas dengan berbagai macam ukurannya dapat  dilihat dengan perhitungan sebagai berikut:

     * Emas 24 karat:85 * 24 : 24 = 85 gram

     *  Emas 22 karat:85 * 24 : 22 = 92.,72 gram

     *  Emas 21 karat:85 * 24 : 21 = 97.,14 gram

     *  Emas 18 karat:85 * 24 : 18 = 113,.33 gram

     *  Emas 18 karat:85 * 24 : 18 = 127.,5 gram

   Adaapun kalau ukuran selain yang disebutkan di atas maka cara menghitung nisab nya sebagaimana tertera di atas."

  3. Jumlah zakat yang dikeluarkan dan syarat-syaratnya

Ukuran yang dikeluarkan pada zakat perhiasan emas dan perak adalah 2,5% atau 1/40 dari jumlah keseluruhan

Adapun syarat-syarat adalah:

     1. Tidak wajib mengeluarkan zakat perhiasan kecuali sudah mencapai satu nishab (ukuran wajibnya zakat). Adapun nisabnya emas adalah 85 gram dan perak 595 gram

     2. Tidak wajib zakat, kecuali emas dan perak itu sudah dimilikinya selama satu tahun (haul).Dan yang dimaksud tahun disini adalah tahun hijriyah, bukan masehi

Sumber : (AL FURQON Tahun ke 7 volume 3 no 3)

 

 

Bagikan :