JIMAT
Easystem   20 September 2018   Dibaca 113 kali  

 Jimat adalah barang siji sing dirumat, begitulah kata orang Jawa. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti barang satu yang dijaga dan dirawat dengan baik.

 Jimat merupakan tradisi masyarakat yang masih lestari. Banyak orang yang memandang bahwa jimat itu lumrah dan biasa. Kalau tidak percaya, lihatlah sikap dan kepemilikan mereka akan benda ini. Mereka meyakini bahwa jimat memiliki daya magis yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Disebabkan jimat, orang yang asalnya biasa saja berubah menjadi sakti mandraguna, tidak mempan senjata, terjaga keselamatan diri dan hartanya, pekerjaan berhasil diraih, jabatan bisa dipertahankan, sukses dalam percintaan, dan segudang khasiat lainnya. Sebab itu, berlomba-lombalah orang ingin memiliki jimat karena tergiur debgab khasiat-khasiatnya itu. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, kalimat inilah yang paling tepat untuk kita ucapkan melihat fenomena di atas. Itulah musibah besar yang dialami masyarakat yang notabene mayoritas Islam. Hal itu menunjukkan lemahnya tauhid seorang hamba terhadap Robb (Tuhan) nya dan minimnya pengetahuan akan lawannya tauhid (yaitu syirik). Allahul Musta'an

Pengertian Jimat

 Jimat dalam bahasa Arab disebut tamimah. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (hlm. 620) jimat didefinisikan sebagai benda ghaib yang dianggap memiliki tuah, seperti; menyembuhkan penyakit, mendatangkan rezeki, membuat orang jadi kebal, sakti mandraguna, dan sebagainya.

 Adapun menurut istilah syari'at, jimat adalah sejenis tamimah dan tiwalah. Tamimah adalah setiap benda yang digantungkan pada leher atau selainnya untuk melindungi diri, menolak balak dari dirinya, berasal dari bahan apan pun. Tiwalah (pelet/pengasihan) adalah sesuatu yang bisa menyebabkan kecintaan suami kepada istrinya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Tiwalah adalah sesuatu yang dipakai oleh wanita untuk menimbulkan kecintaan suami. Ini termasuk sihir." (Fathul Majid kar. Abdurrohman bin Hasan alu-Syaikh: 154)

 Dengan demikian, jimat tidaklah terbatas pada bentuk tertentu, bahkan mencakup hal-hal yang sangat banyak dan beragam bentuknya. Apa pun coraknya namun intinya sama karena disertai dengan keyakinan yang sama.

Dalil Larangan Jimat

 Wahai saudaraku, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengingkari, mencela, dan mengancam dengan keras orang yang menggunakan jimat. Ini disebabkan adanya keyakinan orang-orang jahil (bodoh) bahwa jimat berkhasiat untuk melindungi diri sehingga menimbulkan ketergantungan hati kepada selain Allah Ta'ala dan melupakan-Nya Islam memandang bahwa jimat termasuk perkara syirik. Sungguh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan hal itu di dalam al-Qur'an dan sunnah. Allah Ta'ala berfirman: 

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 


Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus[10]: 107)

Imam Ibnu Katsir berkata: "Ayat ini menjelaskan bahwa kebaikan, keburukan, kemanfaatan dan kemudaratan itu hanyalah kembali kepada Allah Ta'ala (di tangan Allah Ta'ala, Pen), tidak ada seorang pun yang ikut campur. Dialah yang berhak diibadahi dan tidak boleh disekutukan dengan apa pun." (Tafsir Ibnu Katsir: 2/476)

 Tamimah (jimat) dan tiwalah (pengasihan) termasuk yang dikehendaki oleh ayat tersebut. Bukankah pemakainya meyakini bahwa benda tersebut mampu mendatangkan manfaat dan menolah madhorot (bahaya)? Kalau begitu , bukankah ini artinya menjadikan benda-benda tersebut sekutu Allah? Padahal yang berhak dan yang memiliki dan semua itu (mendatangkan manfaat dan menolak bahaya) hanyalah Allah Ta'ala. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya mantera-mantera, jimat-jimat, dan benda-benda untuk pengasihan adalah syirik." (HR. Ahmad: 1/381, Abu Dawud: 3865, Ibnu Majah: 2854, dishohihkan Syaikh Albani dalam ash-Shohihah: 331)

 Dari Uqbah bin Amir al-Juhani R.A beliau berkata: "Sekelompok orang datang kepada Rasulullah SAW,lalu beliau membai'at mereka kecuali satu orang. Mereka bertanya: 'Wahai Rasulullah S.A.W, mengapa engkau hanya membaiat sembilan orang dan tidak membaiat orang ini?' Jawab beliau: 'Padanya ada jimat.' Lalu beliau memasukkan tangannya ke badan orang itu dan melepaskan jimat tersebut lalu membai'atnya. Kemudian beliau bersabda: 'Barang siapa yang memasang/menggatungkan jimat,sungguh dia telah melakukan perbuatan syirik."" (HR. Ahmad: 4/156, al-Hakim: 4/219, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shohihah: 493)

 Syaikh Abdurrahman bin Hasan berkata (dalam Qurrotul 'Uyun): "Dalam hadits ini terdapat keterangan yang gamblang bahwa menggantungkan jimat adalah syirik sebab tujuan menggantungkannya adalah guna menolah bahaya atau memperoleh manfaat. Selain itu, (Penggunaan jimat) juga menafikan kesempurnaan ikhlas yang merupakan makna la ilaha ilaallah sebab seorang mukhlis (orang yang ikhlas) hatinya tidak akan berpaling kepada selain Allah Ta'ala dalam memperoleh manfaat dan menolak bahaya. Kesempurnaan tauhid tidak akan diperoleh selama dia tidak meninggalkan semua itu walaupun hanya berupa syirik kecil. Meskipun kecil, ia(syirik) adalah perkara besar (merupakan dosa terbesar meski dinamakan syirik kecil)." (Fathul Majid: 43,catatan kaki)

Mengapa Jimat Membudaya? 

 Sekurang-kurangnya ada tiga penyebab tersebar luasnya pemakaian jimat disebagian masyarakat kita:

  1. Kebodohan akan ajaran tauhid dan hal-hal yang berlawanan dengannya yaitu syirik.
  2. Ketergantungan sebagian besar manusia pada orang-orang yang mereka sebut "wali Allah" padahal hakikatnya bukan dalam kebanyakan urusan mereka. Kalau menginginkan sesuatu, mereka mendatangi 'sang wali' (kiai) untuk minta dibuatkan jimat-jimat tertentu sesuai dengan kebutuhan.
  3. Tersebarnya buku-buku yang memuat kebatilan dan kesehataan bahkan ada buku yang memuat secara khusus seluk-beluk jimat dan tata cara membuatnya dijual dengan harga yang sangat murah.

Bolehkah Memakai Jimat Sekedar Untuk Hiasan? 

Menggunakan jimat dengan tujuan untuk hiasan (aksesoris) hukumnya haram. Demikianlah menurut penjelasan Syaikh Sholih alu-Syaikh dalam at-Tahmid li Syarhi Kitabi at-Tauhid. Alasannya, hal ini menyerupai apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk (golongan) mereka." (HR. Ahmad: 5114, Ibnu Abi Syaibah: 19437, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: 6/98)

Jimat dari Ayat-Ayat Al-Qur'an

Ada sebagian kalangan membolehkan jimat yang berasal murni dari ayat-ayat al-Qur'an, tanpa ditambah-tambahi, dikurangi, atau diputarbalikkan. Ketahuilah wahai sadaraku semoga Allah Ta'ala merahmatimu bahwa hal ini pun tidak boleh dilakukan, haram hukumnya. Alasannya ialah sebagai berikut:

  1. Hadits-hadits larangan tamimah (jimam) bersifat umum, tidak ada dalil yang mengkhususkan (mengecualikan)nya. Sebab itu, hadits-hadits tersebut diamalkan menurut keumumannya. Tamimah berupa tulisan ayat al-Qur'an atau lainnya tidak bisa dikecualikan (dari larangan itu).
  2. Andaikan jimat model ini dibolehkan, tentu akan dijelaskan pembolehannya oleh Rasulullah SAW.
  3. Pengharaman ini bertujuan untuk menutup jalan (saddu dzari'ah) yang menjerumuskan manusia ke dalam syirik. agar tidak samar antara tamimah yang mengandung kesyirikan dengan tamimah dari al-Qur'an. Kalau sampai terjadi kesamaran, tamimah yang syirik menjadi tidak diingkari dan ayat al-Qur'an pun menjadi permainan (karena digunakan sebagai penangkal).
  4. Pemakainya terjerumus ke dalam penghunaan al-Qur'an karena jimat yang berisi ayat-ayat al-Qur'an tersebut akan dibawa ke tempat-tempat najis yang al-Qur'an harus dijauhkan darinya. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa jimat tersebut digunakan sebagai mainan anak-anak kecil atau dipakai dalam keadaan-keadaan tertentu yang tidak selayaknya al-Qur'an dipakai dalam kondisi tersebut, seperti: berjimak (bersetubuh), buang air besar, dan berbuat maksiat (dosa)

Keracunan Syubhat dan Bertahan

 Barangkali ada yang mengatakan: "Semua ini (pemakaian jimat) sebagai wasilah atau sarana, seperti halnya berobat ke doketr." Perkataan ini kita jawab dengan mengutip penjelasan Syaikh as-Sa'di: "Dalam masalah wasilah atau sarana ini (kita) harus memahami tiga hal:

  1. Tidak boleh menjadikan sesuatu sebagai sarana kecuali kalau diakui sebagai sarana secara syar'i (menurut agama) dan qodari (berdasarkan penelitian ilmiah/medis).
  2. Tidak boleh bergantung padanya tetapi harus kepada yang membuat sarana itu yaitu Allah Ta'ala disertai amal untuk merealisasikan sarana itu dan bersemangat dalam mendapatkan manfaat.
  3. Perlu di ketahui, bagaimanapun kuatnya sarana itu tidak terlepas dari Takdir Allah Ta'ala,tidak berdiri sendiri." (al-Qoulus Sadid: 34)

 Demikianlah wahai saudaraku, sajian kita kali ini semoga bermanfaat bagi semua dan menjadi tambahan dalam timbangan amal kebaikan kami di akhirat kelak. Wallahu A'lam.

 
Tags :
13

Bagikan :