Mendidik dengan Keteladanan
Easystem   17 September 2018   Dibaca 471 kali  

Anak-anak lebih mengenal dunia lewat mata mereka daripada lewat akal. Mereka lebih banyak terpengaruh oleh apa yang mereka saksikan daripada apa yang mereka dengar. Mereka mengawasi orang tua dan mendidik mereka. Mereka lebih berhasrat meniru perbuatan mereka daripada menaati perkataan mereka.

Ya. mereka belajar dengan cara meniru. Kemampuan mereka untuk itu merupakan salah satu keistimewaan yang bermanfaat untuk mendidik mereka. Bahkan, aturan pengaruh orang tua terhadap anak adalah, "Jika orang tua mengamalkan ilmunya, pastilah anak mengambil manfaat dari kata-katanya."

Salah satu dalil paling jelas perihal keteladanan adalah tatkala Nabi memerintah para sahabat mencukur rambut. Mereka enggan melakukannya. Tetapi seusai beliau mencukur rambut, serta-merta mereka berebut mencukur rambut.

TELADAN SALAF

Mari kita simak penuturan Ibnu Abbas tentang sikap yang Rasulullah contohkan. Ketika Ibnu Abbas masih bocah, "Saya bermalam di rumah bibi saya (dari pihak ibu), kemudian Nabi shalat malam. Saya pun ikut shalat bersama beliau. Saya berdiri di sebelah kirinya. Lantas beliau meraih kepala saya dan membuat saya berdiri di sebelah kanannya." (HR. al-Bukhari: 667)

Lihat pula dalam cerita Mu'awiyah bin Qurrah berikut, "Ketika saya bersama Mughaffal di suatu jalan, kami melewati suatu benda tajam. Lantas ia memungutnya dan menyingkirkannya dari jalan. Saya pun melihat benda tajam serupa, lantas saya singkirkan. Serta-merta ia meraih tangan saya dan bertanya, 'Wahai keponakanku, apa yang membuatmu melakukan itu?' 'Paman, tadi saya melihatmu berbuat sesuatu, lantas saya lakukan hal serupa', jawabku. Dia pun berkata, 'Saya mendengar Rasulullah bersabda, 'Barang siapa memungut benda tajam dari jalanan kaum muslimin, dicatat baginya satu pahala, barangsiapa diterima satu pahala darinya, pasti masuk surga.'" (HR. al-Bukhari, 146/395)

TERNYATA ANDA ADALAH TELADAN MEREKA

Para cendekiawan mengisyaratkan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan sesuai contoh yang ditiru si anak. Setiap kali si anak belajar bicara dengan cara meniru, mendengarkan dan memperhatikan, mereka juga menyerap kecenderungan hidup, nilai-nilai, dan kebiasaan dengan cara meniru.

Berhubung anak meniru perilaku orang di sekitarnya, mestilah kita selaku orang tua dan pendidik memiliki pengaruh terbesar dalam mengajarnya, dan harus memikirkan masak-masak segala perilaku dan ucapan kita. Sebab, bagi mereka kita adalah teladan. Keteladanan ini merupakan salah satu sarana pendidikan terpenting, jika bukan satu-satunya, karena anak jauh lebih dipengaruhi keteladanan daripada segala rupa nasihat ataupun pelajaran. Mereka terpengaruh oleh kita dan meniru cara kita berinteraksi dengan orang lain, berhubungan dengan tetangga dan berbicara dengan kawan. Semua itu biasanya terjadi tanpa kita sadari. Maka, secara tidak langsung semua orientasi psikologis mereka.

Ketika anak kehilangan suri teladan dalam sosok orang tua dan pendidik mereka, semua kata-kata kita tidak akan berarti bagi mereka. Percuma saja kita bersusah-payah mencetak generasi yang shalih dari diri anak yang menilai ucapan kita berseberangan dengan perbuatan kita.

Pendahulu kita yang shalih telah mewanti-wanti hal ini dan memperingatkan kita akan urgensi pendidikan orang tua serta pengaruhnya yang besar terhadap pendidikan anak. Tengoklah Amr bin Utbah tatkala memperingatkan guru putranya akan hal ini. Ia berkata, "Hendaklah perbaikan pertama terhadap putraku adalah perbaiakan diri Anda sendiri. Sebab, mata mereka terpaut dengan mata Anda. Bagi mereka, yang dinamakan kebaikan adalah apa yang Anda lakukan dan yang namanya keburukan adalah apa yang tidak Anda lakukan."

Hendaklah kata-kata menjadi sarana terakhir yang kita gunakan untuk mengokohkan nilai-nilai itu dalam jiwa mereka. Banyakomong soal nilai hanya sedikit manfaatnya, kecuali ketika momen dan peluangnya tepat. Ingat, pada dasarnya, anak tidak menyerap nilai-nilai dari nasihat atau pun penjelasan, melainkan diri hidup bersama dan bersinggungan langsung dengan orang tua dan pendidik.

PROSES PENCETAKAN KARAKTER YANG TAK DI RASA

Wahai orang tua dan pendidik, Anda sangat mungkin memberi aneka nasihat dan bimbingan kepada  anak dalam banyak hal,  tetapi batu uji terakhir penerimaan mereka tergantung bagaimana keperibadian dan anggota badan Anda membahaskan itu semua. Putra-putri anda lebih cerdas dari yang Anda kira. Mereka memperhatikan banyak hal yang Anda sangka mereka abaikan.

Masalah terbesar yang Anda hadapi dalam mendidik mereka adalah adanya  jarak-jarak yang memisahkan antara ucapan Anda dan perbuatan Anda. Jika Anda berbohong di depan mereka dengan alasan apapun, semisalsang ibu yang berbohong di telepon dengan mengatakan bahwa ayah tidak ada, berarti Anda mengajarkan bahwa berbohong itu tidak mengapa. Jika Anda menggunakan nada tinggi, debat kusir dan kata-kata pedas kepada orang lain, mereka pun mempelajari semua itu dari Anda.

Sebaliknya, apabila anda bicara dengan tenang, bukan dengan nada amarah, berarti Anda mengajarkan mereka bersikap teguh dan tenang sewaktu bermasalah dengan orang lain. Dalam masalah yang lain pun juga demikian, semisal meminta maaf, bertanggung jawab, sopan santun, kebiasaan bekerja dengan sungguh-sungguh atau membaca, semuanya dapat ditiru oleh anak kita.

Nah, berhubung anak-anak memperoleh watak mereka dengan cara demikian, salah satu kewajiban Anda adalah mengawasi perilaku Anda secara ketat. Hendaklah Anda ingat selalu bahwa anak yang hidup bersama orang tua yang komit pasti akan menjadi anak yang komit, kemudian pada gilirannya menjadi orang tua yang komit pula. Sebaliknya, para orang tua yang mendidik anaknya tanpa aturan yang jelas dan hanya dengan sikap apatis (acuh), hasilnya hanya akan mendidik anak sama seperti mereka.

MULAILAH DARI DIRI KITA

Orang tua yang menegaskan anak harus menaruh barang pada tempatnya dan menjaganya agar tidak berantakan, tatkala ia pergi bersama mereka ke tukang sayur misalnya, lalu mengambil salah satu barang dagangan tetapi tidak jadi membelinya, lantas ia taruh kembali bukan pada tempatnya, atau tatkala ia menemukan uang di jalan lantas ia simpan, bukan mencari pemiliknya, lantas ia berkomentar, "Itu kan, masalah mereka, bukan masalah ayah dan ibu?!' atau tatkala ia menunda pekerjaan sampai menjelang deadline, padahal ia selalu menuntut mereka agar tidak menunda pekerjaan hari ini hingga esok tiba, orang tua semacam ini tentu pada kenyataannya merupakan bagian dari masalah pendidikan anak,bukan dari solusinya.

Dalam semua kondisi itu, anak menyaksikan benturan antara ucapan dan perilaku orang tua. Pada awalnya mereka merasa heran, bingung dan tidak mampu memahaminya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, mengetahui bahwa  orang tidak harus memegang setiap perkataannya dan bahwa kesesuaian antara perkataan dan perbuatan biasanya tidak terjadi!. Di sela-sela konflik yang berlangsung dalam jiwa mereka antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan itu, jiwa mereka membentuk sekumpulan besar perasaan negatif yang mengganggu, yang pada akhirnya melemahkan kepribadian mereka dan mengotori kebersihan hati mereka."

Bahkan, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa setiap masalah pendidikan anak pada hakikatnya adalah masalah kebingungan kedua orang tua terhadap perilaku anak-anak mereka. Mereka menilai anak-anak mereka "tidak menghargai orang lain", "tidak peduli", "tidak memperhatikan", padahal biangnya adalah orang tua itu sendiri.

Hal-hal seperti ini sampai ke puncak kesalahan pendidikan tatkala perilaku anak dijadikan cara terselubung bagi pasangan suami-istri untuk saling mencela satu sama lain. "Lihat apa yang mereka perbuat! Sudah sering saya bilang, kamu terlalu lunak/terlalu keras terhadapnya, tuh, lihat hasil didikanmu."

Para Ayah dan para Ibu pun mengeluh, anak-anak mereka tidak menurut, tidak memperhatikan pelajaran dan sederet kekurangan serta masalah lain. Jika kita mencari penyebabnya, pasti kita temukan bahwa biang segala masalah itu adalah para orang tua sendiri.

Segala perbuatan kita laksana surat tertutup yang kita kirimkan kepada putra-putri kita. Jika semua surat itu negatif, tidak usah berharap darinya selain pengaruh-pengaruh negatif bagi budi pekerti putra-putri kita.

Kita selaku orang tua dan pendidik, perlu bercermin untuk meneliti sikap-sikap kita dan menyingkap sisi-sisi kekurangan dalam hidup kita. Bila kita melakukannya, semua orang pasti merasa perlu mempersiapkan diri dalam kebanyakan sisi kepribadiannya dan mengubah banyak sikap dan keadaannya agar bisa memainkan peran pendidikan yang benar sesuai harapan.

Jika kita ingin budi pekerti putra dan putri kita berubah, hendaklah kita melihat budi pekerti kita di hadapan mereka tanpa berusaha membela kesalahan-kesalahan kita. Bahkan, kita mesti mengalihkan kesalahan-kesalahan itu menjadi peluang untuk mengajari meereka cara bertanggung jawab atas kesalahan dan berhenti melakukannya.

JANGAN BERPURA-PURA!

Tentu saja tidak ada gunanya kita berpura-pura menunjukkan budi pekerti yang baik dihadapan anak-anak, karena mereka mungkin jauh lebih tau apa yang ada di balik itu semua daripada yang diketahui orang dewasa.

Mungkin ada di antara kita yang berperilaku baik di depan anak-anak agar di mata mereka kita tampak lebih baik daripada kenyataannya. Kita juga berusaha mendidik mereka dengan pemikiran, perilaku dan budi pekerti yang sebaik-baiknya, seperti itulah kita berpura-pura. Padahal, tipuan itu tidak mempan bagi mereka! Siapa pun akan menyadari bahwa mereka mengetahui segala hal yang kita coba sembunyikan. Untuk mengajari mereka agar konsisten (istiqamah), tidak ada cara selain menjadi orang yang benar-benar konsisten.

Marilah kita hadapi diri kita secara terang-terangan dan berani jika kita benar-benar berusaha mencetak insan yang shalih. Marilah kita tertawakan diri kita sendiri yang berpura-pura melakukan sesuatu, padahal di saat kita melakukan hal yang sama kita tidak sadar menanamkan sifat munafik dan riya' dalam hati anak kita.

Allahu A'lam.

 

Bagikan :