meraih kesucian hati
Easystem   10 September 2018   Dibaca 109 kali  

hari adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, beragu-raguan dan bencana. ialah yang mengetahui jalan menuju allah sedangkan anggota tubuh lainnya hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya. para salafush-sholih' memperoleh kearifan dalam hidupnya tidak lain adalah karena kualitas hati mereka ketika beribadah kepada allah, yang suci dan bersih dari noda-noda kemaksiatan, sehingga mereka pun memiliki keistimewaan di sisi allah. sungguh allah telah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak bermanfaat, kecuali orang-orang datang kepada allah dengan hati yang selamat. (QS. asy-syu'aro' [26]:88-89)
hati yang suci adalah hati yang selamat. hari yang selamat yaitu hati yang terbebas dari kejelekan syahwat/hawa nafsu dan keinginan yang bertentangan dengan perintah allah, dan dari setiap syubhat (kerancuan/ketidakjelasan) yang menyeleweng dari kebenaran.
maka barang siapa menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia memberesihkan hatinya dari pengaruh racun-racun diatas dan dari benalu-benalu kemungkaran. kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggerogotinya.
peran hati terhadap anggota tubuh
sesuatu yang paling mulia pada jiwa manusia ialah hatinya, hati mempunyai peran yang sangat penting terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. seluruh tubuh adalah pelaksana semua titah (perintah)nya yang selalu setia untuk menerima arahannya. jika hati seseorang baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, namun jika hati seseorang jelek maka akan menjadi jelek pulalah seluruh tubuhnya. sebagaimana sabda rasulullah (arti-nya): "ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. bila ia baik maka seluruh tubuh  pun baik. dan apabila ia rusak maka seluruh tubuh pun rusak. ketahuilah, itu adalah hati." (HR. al-Bukhori:52, muslim:1599)
kunci meraih kesucian hati
barang siapa yang memperhatikan kebanyakan manusia saat ini, niscaya ia akan menjumpai banyak perkara yang sangat mengherankan. yaitu kebanyakan orang menaruh perhatian yang berlebihan kepada penampilan lahiriah saja tetapi lalai dari kebutuhan batiniah. banyak juga orang yang sibuk dengan memperindah amalan ibadah lahir tetapi ia juga lupa dari memperindah ibadah batin. di samping itu, kita juga menyaksikan kerumunan orang yang sangat antusias (bersemangat) mengikuti berbagai macam majelis penyucian hati, seperti majelis dzikir manajemen qolbu, dan lain-lain. namun pada hakikatnya mereka terjebak dalam perangkap tasawuf, yang justru makin memperkeruh hati. oleh karena itu, sebagai kaum muslimin umat Nabi Muhammad yang bersandar di atas al-qur'an dan as-sunnah, suah seyogianya kita memahami dan megetahui cara meraih kesucian hati menurut metode ahlussunnah wal jama'ah.inilah di antara hal-hal yang bisa memurnikan hati seseorang;
1. memurnikan tauhid kepada allah
merealisasikan dan memurnikan tauhid (yaitu hanya beribadah kepada allah dan tidak menyekutukan-Nya) merupakan wasilah/sarana terpenting untuk meraih kesucian hati (lihat firman allah dalam QS. fushshilat [41]:6-7)
adapun syirik, ia adalah penghapu semua amal ibadah dan mengakibatkan kekekalan di dalam neraka jahanam. selain itu, syirik juga menyebabkan hinaan dan kenistaan, sebagaimana firman allahh:

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). (QS. al-isra [17]:22)
2. meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh allah
dalam masalah ini, syaikhul-islam ibnu taimiyyah berkata: "jiwa dan amal tidak bisa suci, hingga dihindarkan dari hal-hal yang bisa menentangnya. dan seseorang tidaklah bersih melainkan dengan meninggalkan yang buruk karena ia akan mengotori dan mengeruhkan jiwa.
3. melaksanakan sholat lima waktu
renungkanlah apa yang disabdakan oleh rasulullah (artinya): "beritahukanlah kepadaku, seandainya ada sungai di depan pintu seseorang diantara kalian lalu ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, bagaimana pendapatmu, apakah ia masih menyisakan kotoran pada dirinya?" mereka menjawab: "dia tentu tidak menyisakan sedikit pun dari kotorannya." beliau bersabda: "demikian itulah perumpamaan sholat lima waktu. dengan nya allah menghapus dosa-dosa." (HR. al-bukhori: 528, muslim:667)
4. banyak bersedekah
allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. at-Taubah [9]:103)
syaikhul-islam ibnu taimiyyah berkata: 'sesungguhnya zakat itu mengharuskan adanya thoharoh. firman allah adalah membersihkan dari keburukan-keburukan, sedangkan adalah menyucikan dengan amal-amal kebajikan." (majmu' fatawa: 10/634-635)
amalan hati
ibnu mandah mengatakan : "amalan hati adalah ikhlas, rendah hati, cinta, takut, mengharap, tawakkal, dan semisalnya." (al-iman oleh ibnu manda: 2/362, dinukil dari kitab ma'alim fis-suluk: 67)
sesungguhnya semua amalan hati tersebut wajib ditujukan kepada allah sebuah kewajiban yang paling agung dan paling penting untuk mendekatkan diri kepada-Nya. dengan demikian, apabila amalan hati ini lenyap dari dalam jiwa seseorang maka hampalah amalan anggota tubuh lain yang ia kerjakan. oleh karena itu, amalan hati merupakan pokoknya dan amalan jawarih (anggota badan) merupakan pengikutnya.
demikianlah, hati memiliki peran yang sangat agung di dalam tubuh seseorang. terangilah hati kita dengan membaca al-qur'an dan mentadabburi makna yang terkandung di dalamnya, mendatangi majelis ilmu. sesungguhnya, jika hati kosong dari mengingat allah maka niscaya setan akan masuk sebagai racun yang mengantarkan ke lembah kemaksatan. wal 'iyadzu billah.
 

 

 

sumber: buletin al-furqon tahun ke 3 volume 1 no. 2

 

Bagikan :