siapa bilang suap haram?
Easystem   05 September 2018   Dibaca 133 kali  

istilah "suap" akhir-akhir ini kembali populer di negeri kita. dalam pemakaian sehari-hari, suap sering diistilahkan dengan "uang pelicin" atau "uang sogok". contoh praktisnya, seorang wartawan bisa saja tidak memberitakan kasus yang menyangkut masyarakat banyak ketika ia tergoda dengan iming-iming (suap) dari pihak yang berkepentingan dengan kasus tersebut. seorang penjahat bisa bebas dari jerat hukum jika ia memberikan sekian juta rupiah kepada seorang hakim. itulah sebagian realitaa yang terjadi di negeri kita. 

pengertian suap

ibnu al-atsir mengatakan bahwa suap (risywah) berarti sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya engan cara yang dibuat-buat (tidak semestinya). 

al-fayyumi mengatakan (misbah al-munir 1/228): "suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang pada seorang hakim atau selainnya supaya memutuskan hukum bagnya atau memenuhi apa yang ia inginkan. dari beberapa pengertian tersebut bisa kita simpulkan bahwa suap adalah harta yang diperoleh karena terselaikannya suatu kepentingan manusia (baik untuk memperoleh keuntungan maupun menghindari kerugian/bahaya) yang semsetinya diselesaikan tanpa imbalan."

menagapa suap menyuap dilakukan orang

sebenarnya banyak sekali hal-hal yang mendorong seseorang untuk  melakukan suap menyuap tetapi disini akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya:

1. lemahnya iman dan takwa seseorang. karena keduanya merupakan kunci utama bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya. oleh karena itu tidaklah seseorang itu berbuat maksiat kecuali ketika imannya sedang lemah.

2. sifat tamak dan rakus akan kenikmatan dunia. hal ini sangt berpengaruh terhadap diri seseorang karena bisa menjadikannya menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi keinginannya.

3. gila akan jabatan dan kehormatan di masyarakat, sehingga ia rela mengorbankan apa pun demi mendapatnya.

hukum suap

imam al-qurthubi dalam tafsirannya mengatakan bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang keharaman risywah (suap). bahkan banyak di aantara mereka yang menukil adanya ijma' akan keharamannya, seperti yang di nukil oleh imam asy-syaukani (nailu author 4/595), imam ash-shon'ani (subulus salam 1192), syaikh alu bassam (taudhihul ah-kam 7/118), dll.

banyak sekali dalil yang menjelaskan keharamannya baik dari al-qur'an maupun as-sunnah1.

1. surat al-ma'idah [5]:42

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ.....

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka....

umar bin khoththob, ibnu mas'ud dan lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dalah risywah (suap-menyuap). hal ini semakna dengan firman allah dalam surat al-baqarah [2]:188 yang menjelaskan haramnya memakan harta orang lain dengan cara zhalim.

2. sunnah (hadist) rasulullah banyak sekali, diantaranya:

dari abu huroiroh beliau berkata: "rasulullah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam hukum." (HR. Ahmad: 2/386, at-tirmidzi: 1336, ibnu hibban: 1196, dishohihkan al-albani dalam misykah:3753)

3. menyuap merupakan tindakan yang menzhalimi (merugikan) orang lain karena sebenernya ia tidak berhak. sedangkan alloh dan rosul-nya dengan tegas telah melarang kita untuk berbuat zalim terhadap diri sendiri maupun orang lain.

syaikh abdulloh bin abdurrohman al-bassam mengatakan: "suap termasuk dosa besar karena rasulullah melaknat orang yang menyuap dan yang mengambil suap sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali paa dosa-osa besar." (Taudhihul ahkam: 7/119)

yang dilaknat karena suap

kalau kita cermati, ternyata hadist-hadist rasulullah itu bukan hanya mengharamkan sseorang memakan harta hasil suap-menyuap akan tetapi beliau juga melarang hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya suap menyuap. maka yang diharamkan itu bukan hanya satu perbuatan saja akan tetapi tiga perbuatan sekaligus. yaitu: pemberi suap, penerima suap serta orang yang menjadi penghubung antara keduanya. hal ini sesuai dengan sebuah hadist yang diriwayatkan imam ahmad yang berbunyi:

"Rasulullah shollallahu'alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap serta orang yang menjadi penghubung antara keduanya." (HR. Ahmad: 22452)

Hadits ini sanadnya dinilai dhoif (lemah) oleh para ulama hadits tetapi maknanya sesuai dengan larangan tolong menolong dalam perbuatan dosa[2]. Mustahil seseorang bisa memakan harta hasil suap kalau tidak ada yang menyuapnya. Sebab itu, orang yang menyuap pun mendapat laknat. Hal ini dikarenakan dengan sebab perbuatan dan inisiatif dialah maka ada orang yang makan harta dari suap-menyuap. Dan biasanya dalam kasus suap-menyuap seperti itu, ada pihak ketiga sebagai perantara yang bisa memuluskan proses terjadinya suap-menyuap. Sehingga ia juga berhak mendapatkan laknat dari Allah ta'ala.

Kapan Diperbolehkan Menyuap ?

Ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian ulama mengharamkan secara mutlak, sebagian yang lain memberikan pengecualian. Akan tetapi, yang rojih (kuat) –Wallahu A'lam- adalah bolehnya melakukan suap-menyuap dalam rangka mengambil hak yang menjadi miliknya. Hak tersebut tidak akan diberikan kepadanya kecuali jika ia harus memberi sejumlah uang kepadanya. Atau untuk menolak perbuatan dzalim yang akan mengancam dirinya dan ia tidak akan terhindar darinya kecuali ia harus memberikan sejumlah uang padanya. Maka dalam kasus seperti ini yang berdosa adalah yang mengambil suap tersebut sedangkan yang memberi tidak berdosa. Hal ini didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih rahimahullah bahwasanya ia ditanya apakah suap itu diharamkan pada segala sesuatu, maka ia menjawab: "Tidak, suap itu diharamkan jika engkau memberi sesuatu pada orang lain supaya engkau diberi sesuatu yang bukan hakmu atau supaya engkau bebas dari kewajibanmu. Adapun jika engkau menyuap dalam rangka membela agamamu, nyawamu, atau hartamu maka tidaklah haram". Dan pendapat inilah yang diambil oleh Abu Laits as-Samarqondi rahimahullah, begitu juga Ibnu Mas'ud radliyallahu'anhu (Tafsir al-Qurthubi: 6/120)

Penutup

Wahai saudaraku –semoga Allah ta'ala senantiasa menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus- kita hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Ingatlah akan kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Jadikanlah dunia ini sebagai sawah ladangmu dalam beramal kebaikan demi kebahagiaan dalam kehidupan mendatang. Janganlah engkau terperdaya dengan indahnya serta manisnya dunia. Jangan biarkan anak-anakmu tumbuh dan berkembang dengan harta yang haram. Tinggalkanlah kebiasaan buruk ini (suap-menyuap). Segera bertaubatlah kepada Allah subhanahu wa ta'ala karena kematian akan menghampirimu sewaktu-waktu. Syukurilah apa yang telah Allah ta'ala berikan kepadamu serta tanamkanlah sifat qona'ah (menerima apa adanya) pada diri dan keluargamu. Bersabarlah dengan sedikitnya harta yang engkau miliki. Ingatlah bahwasanya ukuran kemuliaan seseorang itu bukan terletak pada banyaknya harta dan tingginya kedudukan. Akan tetapi, orang yang paling mulia di sisi Allah ta'ala adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Allahu a'lam bish showab.

 

 

Sumber: Buletin al-Furqon Vol.12 no.3 Tahun ke-3, Rabiul Akhir 1430 H

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا

Dari Tsaubân, dia berkata, “Rasûlullâh n melaknat pemberi suap, penerima suap, dan perantaranya, yaitu orang yang menghubungkan keduanya. (HR. Ahmad, no. 22452



Read more https://almanhaj.or.id/7004-suap-mengundang-laknat.html
 

Bagikan :